Chiba, Tokyo, Yokohama, Shizuoka <3 p="">
Ini bisa dibilang kunjungan saya yang ke4 kali ke jepang, setelah pertama 2012 ke Tokyo, lalu ke2 training di Sayama 2013 dan yang ke 3 Kyoto, Osaka & Nara trip di tahun 2014. Tingkat ke-takjub-an saya mungkin tidak lagi seheboh waktu pertama & kedua kali saya berkunjung kesana.
Tapi kali ini lain, saya membawa 2 belahan jiwa yang bagi mereka ini akan jadi perjalanan yang luar biasa, sehingga ke-amazing-an yang tadinya menurun mendadak memuncak kembali. Terlebih saya ingin menunjukan kepada mereka (anak & suami saya) bagaimana dunia saya selama ini. Bekerja dengan bangsa Jepang, kecintaan saya terhadap Jepang & segala apapun yang berhubungan dengan Jepang. Saya seperti ingin melibatkan mereka kedalam bagian dari secuil darah yang mengalir di diri saya itu ada 'Jepang-nya' (ps: lebay adalah nama tengah saya hahaha).
Sekarang baby yang sudah not so baby anymore ini hampir 2 tahun usianya, tepatnya 1 tahun 10 bulan di waktu saya membawanya ke Jepang. Cukup besar untuk bisa dibawa jalan-jalan yang sedikit agak jauh. Ini bukan perjalanan pertamanya naik pesawat, sebelumnya dia sudah pernah terbang ke Bali & ke Malang (anak se-bayi ini udah keliling2 kota dengan indahnya, beda banget sama mamaknya).
1st Day, Thu Oct 293>
<3 p="">CGK-KUL-HND, Kamata Mansion 3>
<3 p="">
Berangkat dari Jakarta pukul 06.30 atau sekitar jam 7 kurang, perjalanan ke Bandara ini cukup atau bisa dibilang penuh drama. Kita yang kesiangan & jam sibuk pagi hari yang macetnya bikin bisa kita kuliah S2 sampe kelar! Karena perjalanan ini kami bawa infant jadi peraturan dari maskapai tidak bisa online check in melainkan harus discounter, yang mana check in counter international ditutup satu jam sebelum boarding time. Saat itu boarding time kami pukul 10.05 dan pukul 08.45 kami masih ditol meruya kurang lebih waktu kami hanya 20 menit untuk tiba di bandara sebelum check in counter di tutup. Ditambah kami beli ticket connecting transit di Malaysia, jadi kalau ticket JKT-KUL tidak digunakan makan ticket KUL-HND juga tidak bisa dipakai.
Si driver uber yang kebetulan bawa mobilnya AYLA yang bener-bener ngga ada larinya itu bikin kami semakin cemas. Bulak balik telepon customer service maskapai untuk meminta perpanjangan waktu ternyata ngga juga bisa bikin kami tenang. Tapi alhamdulillah dengan pengertian si driver uber & mobil super mini juga kecepatan 120km/jam dengan selap selip macet dan klakson yang gak putus2 (maaf ya orang2 dijalan yang pastinya terganggu) akhirnya kami tiba di Soetta Jam 9 kurang 5. 10 menit menuju check in counter tutup.
Tanpa bantu si driver angkat koper keluar dari mobil, suami langsung buka pintu mobil dan lari ke check in counter. Dan alhamdulillah masih sempat check in. Suami langsung balik ke gate & bantu saya dorong2 trolley koper yang juga sambil gendong si bocil.
Singkat cerita kami terbang ke Malaysia, di KUL transit time hanya 45 menit untuk menuju ke penerbangan berikutnya. Tapiiii, karena bawa bayi kami selalu bermasalah setiap kali melalui xray luggage, karena di tas kami banyak air, yang mana pasti kami selalu bawa air untuk seduh susu & juga peralatan minyak kayu putih, minyak telon & cairan2 lainnya untuk keperluan bayi. Jadilah setiap melewati xray kami diminta untuk bongkar kembali tas kami untuk perlihatkan isi bawaan. Bongkar tas itu ternyata sungguh makan waktu. Sampai kami sempat beberapa kali dengar panggilan boarding untuk penerbangan kami selanjutnya. Sedih rasanya lari-lari bawa anak juga bawa koper segede2 alaihim untuk ngejar gate boarding sebelum ditutup.
Lesson learned:
Selalu pisahkan apapun kebutuhan si kecil yang berisi cairan untuk menghindari ribetnya bongkar pasang koper.
Rejeki bocil alhamudlillah selalu bagus, setiap kali perjalanan entah kenapa orang disebelah kami selalu pindah. Si bocil jadi bisa selonjoran dengan nyamannya tanpa harus dipangku. Bayangin kalo harus mangku perjalanan udara selama 2 & 6 jam lebih. Dengan kursi yang se-ada2nya pasti ngga nyaman banget.
Kami tiba di Haneda Intl Airport pukul 23.00 malam, dimana katanya kereta terakhir yang beroperasi untuk ke daerah Kamata & sekitarnya itu berakhir di pukul 23.30. Alhamdulillah satu minggu sebelum berangkat semuanya sudah saya siapkan dengan baik. Insyaallah perjalanan kali ini ngga lagi pake nyasar kaya yang sebelum-sebelumnya hehe.
Setelah keluar dari Imigrasi Haneda kami langsung berlari ke Eki (sta.) terdekat untuk kejar kereta yang nanti akan melewati hotel saya di Kamata, ya saya sudah book satu rumah untuk sekedar bermalam menunggu besok pagi, saya book rumah dengan type apato dari aplikasi airbnb. Satu kamarnya cukup murah $65 dengan 2 tempat tidur, yang satu agak besar yang satu single. Sayang banget saya ngga sempet foto kamarnya karena bener2 sampe kamar langsung tepar & tidur. Jarak antara Haneda Sta sampai ke Sta. Keikyu Kamata tempat hotel saya itu hanya berselang beberapa stasiun saja, perjalanan dengan kereta kurang lebih 5 menit & jalan dari Sta ke apato juga memakan waktu 5 menit. Cukup mudah dijangkau. Walau ketika perjalanan menuju apato agak riweuh karena hujan & si bocil tidur di stroller dengan indahnya. Alhasil saya kerudungin stroller dengan kain yang memang saya bawa untuk menutup cover stroller yang hanya setengah itu.
2nd Day, Fri Oct 30
Kamata, Yoyogi Uehara, Shibuya & Chiba (Rumah Teh Feby)
Pukul 08.00
Saya packing, rapi-rapi dan bergegas menuju Tokyo. Saya harus keluar dari apato tidak boleh lebih dari jam 10.00 karena harus mengejar waktu menuju masjid satu-satunya yang ada di Tokyo tepatnya di Yoyogi Uehara untuk mengantar suami solat Jum'at. Jarak dari Kamata ke Tokyo lumayan jauh. Bukan lumayan dengn memang jauh, naik JR kurang lebih 1,5 jam lamanya, plus ditambah nyasar (hehe ke jepang but not getting lost kayanya kurang afdol aja, ngeles) jadi total 2 jam. Sampe di Yoyogi Uehara Sta kami ketemu segerombolan orang India yang kebetulan lagi buru2 juga mau kejar solat Jumat, padahal itu udah jam 13.00 lebih mungkin. Jadi kami yang gak paham ini ikut2an lari2an juga ngikutin dia dibelakang buat menuju ke Tokyo Camii Turkish Centre itu.
Sampe di Tokyo Camii Mosque ternyata disana masih baru pada gelar2 sajadah. Lucu juga ternyata solat Jumat disana itu mulai pukul 13.45 siang. Alhamdulillah suami masih kesempetan solat disana. Dan disana banyak juga perempuan yang ikut solat Jumat. Karena saya bawa si bocil yang mana akan jadi super rusuh kalo saya tinggal solat akhirnya saya putuskan gantian solat dengan suami. Suami solat Jumat saya solat Zuhur.
Berikut penampakan Tokyo Camii mosque:
3>
Setelah solat Jumat disana saya janjian sama temen kuliah waktu di Unpad, temen yang juga selalu nemenin kalo saya datang ke Jepang, temen yang super welcome kalau ada temen dari Indonesia datang berkunjung, duh malu deh pokonya kalo udah ketemu sama dia, namanya Dhita dia sudah kurang lebih 6 tahun tinggal di Jepang. Ke masjid Dhita susul saya dari abis bertemu sensei nya di Shibuya, kebetulan dia lagi mau daftar sekolah kejuruan di Tokyo. Dimasjid itu juga saya bertemu sepasang suami istri dari Perancis, namanya Sid Ahmed & Hoda istrinya. Mereka ramah banget. Ngajak kita makan siang bareng buat ngobrol2. Berhubung sudah ada Dhita si empunya daerah, selanjutnya semuanya saya serahkan ke Dhita tentang tujuan perjalanan kami hehehe. Ceritanya turis ;p
Singkat cerita kami menuju Shin Okubo, tempat dimana Dhita ngajak kami makan siang yang menjelang sore ini. Restoran Thailand yang katanya biasanya orang Indonesia sering & suka makan disini, tapi ternyata Ahmed & Hoda benar-benar tidak bisa makan di tempat yang tidak ada logo halalnya, kasian banget, sementara saya & suami masih berusaha memilah makan makanan yang sekiranya bisa kami makan. Akhirnya kami memutuskan makan sayur2an atau telur2an atau apa saja yang tidak ada unsur hewaninya.
Ini ketika kami makan bareng sama mereka:
Setelah dari makan di Shin Okubo kami pindah ke Shibuya, Dhita sudah lock koper disana & mereka si bule prancis itu juga kebetulan mau ke Shibuya.
Sejenak duduk-duduk disekitaran Hachiko Statue di depan Shibuya eki. Saya suami & si bocil yang bawaannya segembolan ini istirahat sejenak.
Oh iya saya belum info ya barang bawaan saya bertiga. Kami bawa 1 carrier besar volume 60L & satu koper cabin & 1 baby stroller. Kami pilih satu carrier bag karena yang bawa tasnya itu cuma kita berdua, kalau dua2nya yang dibawa itu koper nanti siapa yang harus bawa salah satunya. Gak mungkinkan kalau si bocil. Jadi dengan adanya carrier, suami saya bisa sambil gerek koper & gendong carrier sementara saya dorong si bayi dengan stroller.
Sekitar 1 jam di Hachiko Statue, saya bertemu laki-laki namanya a icha, dia suami dari teh Feby yang nantinya rumahnya akan kita singgahi selama di Tokyo. Kita akan tinggal disana selama trip di Tokyo. Letak apatonya tepatnya di Chiba, sekitar 45 menit dari Tokyo. Alhamdulillah ya punya temen yang baik-baik. Disana kami ngga sama sekali nyewa hotel , cuma malam pertama aja. Abis ketemu a Icha (yang cuma buat kasih kunci hehe) kami lanjut pulang ke Chiba, ke rumah teh Feby. Sebelumnya kami juga janjian sama teh Feby di Sta NishiNippori karena dia pulang kerja lewat situ .
Sampai di apato teh Feby, taraaaaa~~~ tempatnya enak banget. Jepang banget. Tidurnya pake futon (kasur lantai ala jepang), beberapa pintu kamarnya digeser ala2 jepang, toiletnya juga ala-ala jepang, suka banget. Bocil langsung seneng lari-lari kesana kemari. Sekejap kami langsung masuk kamar yang memang sudah disiapin juga huhu baik banget, kami bersih-bersih lalu masak-masak buat perjalanan besok, karena suami agak susah makanan Jepang, selain rasanya yang beda, tingkat ke-halal-annya juga sangat diragukan.
Jam 24.00 atau mungkin lebih, setelah puas ngobrol-ngobrol, karena satu lagi teman saya namanya Githa juga datang menyusul dan ikut menginap satu malam karena besoknya dia harus jemput 'temannya' dari Belanda yang juga mau Tokyo trip bareng kita nanti. Seru ya.
Stay tune, lanjut 3rd Day di postingan selanjutnya yaa <3 p="">
3>
Wednesday, October 12, 2016
Thursday, April 21, 2016
Saya Ibu Bekerja. Saya tidak bangga. Tapi saya juga tidak menyesal.
Maaf masih berkutat seputar ibu bekerja & ibu dirumah.
Sejak lulus kuliah saya langsung bekerja, sampai saya menikah saya juga masih bekerja, saya hamilpun masih bekerja bahkan ketika selesai melahirkan dan masa cuti saya habis saya tetap bekerja.
Terus saya bangga? Ngga biasa aja!
Semenjak melahirkan dan masa cuti habis dan saya memutuskan untuk tetap bekerja, dimasa-masa itu saya mendadak jadi orang yang cukup sensitif (baca: tersinggungan banget) setiap ada orang yang bilang "lo masih kerja? kenapa ngga resign aja sih kasian anak dirumah masih kecil" atau "anak lo dirumah sama siapa dong kalo lo kerja, jangan sama pembantu deh kasian, lo bisa gitu percaya?" atau "yaampun lo masih kerja aja, udah sih dirumah aja, kan ada suami cari nafkah" dan masih banyak lagi.
Dulu jawab pertanyaan dan pernyataan itu bisa sampe berantem, atau at least sindir2an main kekeh2an siapa yang paling bener. Tapi lambat laun makin kesini saya makin ngerti, ngapain sih sampe sebegitunya. Jadi sekarang setiap ada orang tanya gitu saya cm jawab sekenanya "haha iya nih masih harus kerja" atau "iya nih kalo udah ada kesempatan deh mau hehe" sekarang udah sesimple itu (lebih tepatnya karena males sih).
Saya suka heran, kok bisa sih orang dengan mudahnya sih ngejudge orang, padahal kita tau kehidupan orang kan beda-beda, kita ngga tau alasan yang melatar belakangi si ibu harus tetap bekerja. Ibu yang memutuskan tetap bekerja ngga melulu karena financial keluarganya buruk, atau ibu yang bekerja juga belum tentu karena ngga betah dirumah, atau ngga mau ngerjain kerjaan rumah. Bener deh! Masih banyak hal yang terlalu luas & dalam yang kadang kita (orang diluar ibu bekerja) ngga bisa ngerti.
Jadi sebagai ibu bekerja, saya ngga mau sedikitpun menyesali kenapa saya harus jadi ibu bekerja, karena saya tau betul dibalik alasan kenapa saya harus tetap bekerja dan saya juga ngga mau ngejudge ibu2 dirumah karena saya ngga tau bagaimana rasanya jadi ibu yang stay dirumah setiap hari.
Sebagai ibu bekerja, dari pada saya pusing mikir yang mana yang bener yang mana yang baik, saya lebih memilih buat selalu berpikir untuk meng hilite positifnya dari ibu bekerja, apa aja sih kira2.
Dengan tanpa sedikitpun mengurangi kekaguman saya terhadap ibu yang stay dirumah, yang ngerjain segala sesuatunya sendiri, yang mungkin bisa ngurus rumah & anak tanpa bantuan ART, saya bisa bilang ibu bekerja juga punya nilai2 lebih seperti:
1. Waktu bertemu dengan anak si ibu bekerja memang lebih sedikit dari ibu yang stay dirumah tapi saya percaya karena waktu yang sedikit itu bikin jadi terus ada rasa kangen jadi ketika ketemu maunya selalu manja-manja dan sayang-sayangan. Ini pengalaman pribadi ya antara saya dan kakak ipar saya yang notabene adalah ibu rumah tangga. Dia sendiri cerita kalau ibu rumah tangga memang cenderung lebih mudah marah dan akhirnya sering kali tanpa sadar melampiaskan ke anak (karena memang yang ada dirumah cuma anak). Mungkin karena bebannya terlalu berat dan dipikul sendiri, mengasuh anak, beresin rumah bahkan kadang ngerjain pekerjaan kasar ibu rumah tangga juga bisa. Itulah yang saya amazing. Untuk yang ini saya setuju dan saya salut. Tapi apa dampaknya? Si ibu kelelahan, tidak ada tempat berbagi, alhasil anak yang rewel dan pasti tingkahnya membuat kesal bisa menjadi sasaran empuk si ibu untuk melampiaskan kemarahan.
2. Dengan bekerja si Ibu bisa dengan mudah kasih masukan ke anak, bahwa hidup itu butuh perjuangan, makanya bunda sama ayah harus kerja supaya ade bisa sekolah yang tinggi. Itu juga yang saat ini saya coba berikan pengertian ke anak supaya lambat laun dia mengerti bahwa ibunya bukan pergi untuk meninggalkan dia, melainkan sedang berusaha untuk masa depannya.
3. Ibu bekerja katanya, katanya ya, pikirannya jauh lebih terbuka (yang saya rasain sih gitu) mungkin karena ibu bekerja banyak bertemu orang diluaran sana, sehingga banyak berinteraksi banyak tukar pikiran sehingga beban menjadi ibu tidak seberat ibu yang stay dirumah yang mungkin, mungkin loh ya, bebannya semua dipikul sendiri.
4. Ibu bekerja terlihat lebih heroik di depan anak terlebih jika si anak sudah lebih dari 2 tahun yang sudah mengerti apa tujuan dari bekerja.
Sekali lagi poin2 diatas mungkin hal2 positif yang saya tanamkan untuk mengurangi rasa bersalah saya karena tidak bisa mendampingi anak sehari-hari. Tapi percayalah ibu bekerja tidak seburuk yang orang-orang pikirkan diluar sana. Apalagi kalau udah bawa-bawa agama yang seolah ibu bekerja itu dosa besar. Duh saya sedih sama yang punya pemikiran sesempit ini, walau pada kenyataannya ada seorang uztad yang dengan tanpa rasa bersalahnya memblow up tentang bagaimana buruknya ibu bekerja dimata Allah.
Sedih saya!
Saya masih suka galau ketika ninggalin anak setiap pagi, saya selalu mau buru2 pulang ketika jam kantor sudah selesai. Saya selalu telepon pengasuh saya untuk memastikan anak saya baik2 saja. Saya selalu tanya perkembangan apa aja yang sudah bisa dilakukan dia setiap harinya. Saya perhatikan makannya, saya jaga kesehatannya. Dan terlebih yang paling penting saya dapatkan RIDHO & IJIN SUAMI SAYA untuk tetap bekerja.
Jadi masih buruk kah ibu bekerja di mata orang2?
Saya rasa sebaiknya dipikir lagi.
Sejak lulus kuliah saya langsung bekerja, sampai saya menikah saya juga masih bekerja, saya hamilpun masih bekerja bahkan ketika selesai melahirkan dan masa cuti saya habis saya tetap bekerja.
Terus saya bangga? Ngga biasa aja!
Semenjak melahirkan dan masa cuti habis dan saya memutuskan untuk tetap bekerja, dimasa-masa itu saya mendadak jadi orang yang cukup sensitif (baca: tersinggungan banget) setiap ada orang yang bilang "lo masih kerja? kenapa ngga resign aja sih kasian anak dirumah masih kecil" atau "anak lo dirumah sama siapa dong kalo lo kerja, jangan sama pembantu deh kasian, lo bisa gitu percaya?" atau "yaampun lo masih kerja aja, udah sih dirumah aja, kan ada suami cari nafkah" dan masih banyak lagi.
Dulu jawab pertanyaan dan pernyataan itu bisa sampe berantem, atau at least sindir2an main kekeh2an siapa yang paling bener. Tapi lambat laun makin kesini saya makin ngerti, ngapain sih sampe sebegitunya. Jadi sekarang setiap ada orang tanya gitu saya cm jawab sekenanya "haha iya nih masih harus kerja" atau "iya nih kalo udah ada kesempatan deh mau hehe" sekarang udah sesimple itu (lebih tepatnya karena males sih).
Saya suka heran, kok bisa sih orang dengan mudahnya sih ngejudge orang, padahal kita tau kehidupan orang kan beda-beda, kita ngga tau alasan yang melatar belakangi si ibu harus tetap bekerja. Ibu yang memutuskan tetap bekerja ngga melulu karena financial keluarganya buruk, atau ibu yang bekerja juga belum tentu karena ngga betah dirumah, atau ngga mau ngerjain kerjaan rumah. Bener deh! Masih banyak hal yang terlalu luas & dalam yang kadang kita (orang diluar ibu bekerja) ngga bisa ngerti.
Jadi sebagai ibu bekerja, saya ngga mau sedikitpun menyesali kenapa saya harus jadi ibu bekerja, karena saya tau betul dibalik alasan kenapa saya harus tetap bekerja dan saya juga ngga mau ngejudge ibu2 dirumah karena saya ngga tau bagaimana rasanya jadi ibu yang stay dirumah setiap hari.
Sebagai ibu bekerja, dari pada saya pusing mikir yang mana yang bener yang mana yang baik, saya lebih memilih buat selalu berpikir untuk meng hilite positifnya dari ibu bekerja, apa aja sih kira2.
Dengan tanpa sedikitpun mengurangi kekaguman saya terhadap ibu yang stay dirumah, yang ngerjain segala sesuatunya sendiri, yang mungkin bisa ngurus rumah & anak tanpa bantuan ART, saya bisa bilang ibu bekerja juga punya nilai2 lebih seperti:
1. Waktu bertemu dengan anak si ibu bekerja memang lebih sedikit dari ibu yang stay dirumah tapi saya percaya karena waktu yang sedikit itu bikin jadi terus ada rasa kangen jadi ketika ketemu maunya selalu manja-manja dan sayang-sayangan. Ini pengalaman pribadi ya antara saya dan kakak ipar saya yang notabene adalah ibu rumah tangga. Dia sendiri cerita kalau ibu rumah tangga memang cenderung lebih mudah marah dan akhirnya sering kali tanpa sadar melampiaskan ke anak (karena memang yang ada dirumah cuma anak). Mungkin karena bebannya terlalu berat dan dipikul sendiri, mengasuh anak, beresin rumah bahkan kadang ngerjain pekerjaan kasar ibu rumah tangga juga bisa. Itulah yang saya amazing. Untuk yang ini saya setuju dan saya salut. Tapi apa dampaknya? Si ibu kelelahan, tidak ada tempat berbagi, alhasil anak yang rewel dan pasti tingkahnya membuat kesal bisa menjadi sasaran empuk si ibu untuk melampiaskan kemarahan.
2. Dengan bekerja si Ibu bisa dengan mudah kasih masukan ke anak, bahwa hidup itu butuh perjuangan, makanya bunda sama ayah harus kerja supaya ade bisa sekolah yang tinggi. Itu juga yang saat ini saya coba berikan pengertian ke anak supaya lambat laun dia mengerti bahwa ibunya bukan pergi untuk meninggalkan dia, melainkan sedang berusaha untuk masa depannya.
3. Ibu bekerja katanya, katanya ya, pikirannya jauh lebih terbuka (yang saya rasain sih gitu) mungkin karena ibu bekerja banyak bertemu orang diluaran sana, sehingga banyak berinteraksi banyak tukar pikiran sehingga beban menjadi ibu tidak seberat ibu yang stay dirumah yang mungkin, mungkin loh ya, bebannya semua dipikul sendiri.
4. Ibu bekerja terlihat lebih heroik di depan anak terlebih jika si anak sudah lebih dari 2 tahun yang sudah mengerti apa tujuan dari bekerja.
Sekali lagi poin2 diatas mungkin hal2 positif yang saya tanamkan untuk mengurangi rasa bersalah saya karena tidak bisa mendampingi anak sehari-hari. Tapi percayalah ibu bekerja tidak seburuk yang orang-orang pikirkan diluar sana. Apalagi kalau udah bawa-bawa agama yang seolah ibu bekerja itu dosa besar. Duh saya sedih sama yang punya pemikiran sesempit ini, walau pada kenyataannya ada seorang uztad yang dengan tanpa rasa bersalahnya memblow up tentang bagaimana buruknya ibu bekerja dimata Allah.
Sedih saya!
Saya masih suka galau ketika ninggalin anak setiap pagi, saya selalu mau buru2 pulang ketika jam kantor sudah selesai. Saya selalu telepon pengasuh saya untuk memastikan anak saya baik2 saja. Saya selalu tanya perkembangan apa aja yang sudah bisa dilakukan dia setiap harinya. Saya perhatikan makannya, saya jaga kesehatannya. Dan terlebih yang paling penting saya dapatkan RIDHO & IJIN SUAMI SAYA untuk tetap bekerja.
Jadi masih buruk kah ibu bekerja di mata orang2?
Saya rasa sebaiknya dipikir lagi.
Aktif posting aktifitas bayi di socmed. Good or Bad?
Tingkah laku bayi emang selalu ada2 aja, selalu bikin orang tua berdecak kagum, karena pasti BUANYAK hal-hal yang baru setiap harinya. Terutama bayi yang usianya bulanan, progress perkembangan dan pertumbuhannya cepat sekali, begitu juga dengan kemampuannya.
Karena kekaguman dan keámazingán saya sama perkembangan itu saya memilih untuk terus mengabadikan segala momen2 penting yang terjadi dalam perkembangan anak. Dengan apa? Pasti foto dan video! Cuma 2 hal itu yang bisa saya gunakan nanti kelak suatu saat saya rindu dengan masa-masa kecilnya.
Sekarang anak kecil yang mungil ini sudah 1 tahun, cepat ya! Trus dengan mudah saya buka account instagram yang memang sengaja saya buat khusus untuk menyimpan foto-foto & video dia. Untuk video berdurasi panjang saya memilih menyimpannya di account Youtube saya.
Ya, social media, saya posting semuanya, alasannya? Karena kalau hanya saya ambil dan saya simpan, atau katakanlah saya cetak.
Album foto bisa hilang atau rusak.
Memori card bisa error.
HP/ LAPTOP bisa ngehang.
Ya cuma dengan menguploadnya ke social media saya merasa segalanya akan tersimpan dengan aman disana, kapanpun saya pergi saya bisa buka dan bisa saya lihat.
Dibilang pamer? Ya ngga papa, pikiran orang kan sah2 aja bukan. Yang terpenting bagaimana niat saya.
Ngga takut nanti disalah gunakan sama oknum2 yang tidak bertanggung jawab?
Ngga! Saya mengupload perkembangan anak saya, bukan aktifitasnya pada saat itu.
Tidak ada kekhawatiran sedikitpun, sama sekali.
Ditambah segala postingan di social media pasti ada tanggalnya, jadi gampang banget buat tau ini waktu si ade umur berapa ya?
Selain itu, suatu saat dia besar nanti, password account yang saya buatkan juga akan saya kasih juga ke dia. Dia jadi tau bagaimana dia kecil saat itu.
Menyenangkan ngga sih?
Saya sih iya.
Kalau ada yang tidak sependapat sah2 aja.
:)
Karena kekaguman dan keámazingán saya sama perkembangan itu saya memilih untuk terus mengabadikan segala momen2 penting yang terjadi dalam perkembangan anak. Dengan apa? Pasti foto dan video! Cuma 2 hal itu yang bisa saya gunakan nanti kelak suatu saat saya rindu dengan masa-masa kecilnya.
Sekarang anak kecil yang mungil ini sudah 1 tahun, cepat ya! Trus dengan mudah saya buka account instagram yang memang sengaja saya buat khusus untuk menyimpan foto-foto & video dia. Untuk video berdurasi panjang saya memilih menyimpannya di account Youtube saya.
Ya, social media, saya posting semuanya, alasannya? Karena kalau hanya saya ambil dan saya simpan, atau katakanlah saya cetak.
Album foto bisa hilang atau rusak.
Memori card bisa error.
HP/ LAPTOP bisa ngehang.
Ya cuma dengan menguploadnya ke social media saya merasa segalanya akan tersimpan dengan aman disana, kapanpun saya pergi saya bisa buka dan bisa saya lihat.
Dibilang pamer? Ya ngga papa, pikiran orang kan sah2 aja bukan. Yang terpenting bagaimana niat saya.
Ngga takut nanti disalah gunakan sama oknum2 yang tidak bertanggung jawab?
Ngga! Saya mengupload perkembangan anak saya, bukan aktifitasnya pada saat itu.
Tidak ada kekhawatiran sedikitpun, sama sekali.
Ditambah segala postingan di social media pasti ada tanggalnya, jadi gampang banget buat tau ini waktu si ade umur berapa ya?
Selain itu, suatu saat dia besar nanti, password account yang saya buatkan juga akan saya kasih juga ke dia. Dia jadi tau bagaimana dia kecil saat itu.
Menyenangkan ngga sih?
Saya sih iya.
Kalau ada yang tidak sependapat sah2 aja.
:)
Monday, May 18, 2015
Kisah si pejuang ASIP
Lagi2 bisanya nyolong waktu dikantor ;p
Menghitung hari risa di detik2 risa mau ke 6 bulan. Dan melihat stock ASIP yang alhamdulillah masih satu freezer insyaallah yakin kalau si kecil akan sukses asi eksklusif 6 bulan (yang kecolongan 3x ngasih pisangnya ga usah diitung yah please heheheh).
Di tulisan kali ini aku mau bagi cerita sedikit tentang kisah si pejuang asi. Tanpa sedikitpun mengurangi rasa takjub kepada para ibu yang stay at home ngejaga babynya seorang diri, saya sebagai ibu yang bekerja juga mau memberikan seribu jempol ke ibu2 yang bekerja namun tetap dengan kekehnya berusaha memberikan asi untuk anak tercintanya.
Dimulai sejak sebelum melahirkan saya udah banyak browsing2 tentang manajemen ASIP dan kisah para ibu2 pejuang asi. Sedikit banyak saya sudah tau dan ada gambaran bagaimana suka dukanya si pejuang asi. Tapi sayangnya yang saya alami tidak seindah yang ada di tulisan atau di blog2 para ibu2 yang saya baca. Pelajaran yang saya petik, jangan lihat hasilnya, kita juga perlu tau prosesnya, banyaknya foto2 di instagram yang memajang asip beku yang penuh didalam kulkas freezer milik para ibu2 membuat saya berpikir dan mengganggap itu semua mudah dan semua ibu akan mampu mendapatkan hal yang sama.
Sampai usia 3 bulan baby risa masih menyusu langsung dari saya, dan sejak usianya menginjak satu setengah bulan itu saya berusaha sebisa mungkin atau bisa dibilang memaksakan diri untuk bisa mulai rutin memompa asi disela2 ketika baby risa tidur, karena semenjak baby risa sudah bisa menyusu langsung di bulan pertama saya jadi keenakan dan lupa kalau saya punya kewajiban untuk "menabung" untuk nantinya ketika saya harus kembali kerja dan meninggalkan si kecil nantinya. Banyak dari artikel yang saya baca juga katanya semakin banyak asi dikeluarkan sama dengan jumlah asi yang nantinya akan re-produksi. Bermodalkan dari bacaan itu saya mulai mencoba, karena jadwal menyusu baby risa baru mulai teratur diusianya menginjak satu setengah bulan saat itu maka baru saat itu juga saya bisa "menabung" asi.
Setiap hari baby risa menyusu kurang lebih 10x dengan durasi kurang lebih 20 menit, namun saat itu saya merasa produksi asi saya belum berlebih sehingga saya masih ketakutan kalau saya paksakan memompa maka jatah asi untuk si kecil bisa berkurang.
Saya putar otak, saya coba memompa setelah menyusui jadi seberapapun asi yang saya dapat setidaknya baby risa sudah dalam keadaan kenyang, jadi saya tidak terlalu merasa bersalah jika memompa terlebih dahulu dan keadaan payudara mengempis asumsi saya susu yang dia dapat akan sedikit (sekali lagi ini asumsi pribadi).
Ini stock asip pertama saya,
Awalnya sedih sih karena masih sedikit banget..
Tapi 40 hari menjelang masuk kerja saya sukses memompa 2x sehari, siang 80cc dan malam biasanya 100-120cc 20 hari berlalu saya sukses mengumpulkan kurang lebih 40 botol, saat itu saya masih menggunakan freezer yang ada dirumah, saya masukan saya tumpuk2 dan kondisinya juga masih berantakan. Entah bagaimana percaya diri saya begitu tinggi, saya yakin jumlah stock asi saya bisa lebih banyak lagi kalau baru 20 hari saja saya bisa mengumpulkan sebanyak ini.
Pertengahan februari saya memutuskan menyewa freezer khusus asi, isinya terdiri dari 4 rak begitu juga dipinggiran pintunya, dengan kapasitas banyak dan memang satu kulkas ini khusus untuk menyimpan asi jadi saya juga merasa aman asi saya tidak perlu sebelahan dengan daging2 atau ayam ataupun makanan beku & amis yg lainnya (krn katanya tidak boleh dicampur dengan makanan yang berbau amis)
Dan ini hasilnya alhamdulillah sudah lumayan banyak:
Namun ternyata perjuangan tidak semudah itu di menjelang masuk kerja entah bagaimana asi saya tidak keluar banyak, ada bejolan di payudara yang keras dan bila dipegang sakitnya luar biasa. Banyak orang bilang itu asi yang menggumpal dipayudara harus dipijat, dikompres, diuyek dan macam2 lah pokonya. Tapi masih ngga keluar juga, coba kedokter malah dipencet2 sama dokternya, sakitnya pake banget. Segala macem diusahain dan taunya 4-5 hari kedepan dia ilang sendiri. KZL
Singkat cerita saya siap untuk masuk kerja seminggu menjelang masuk kerja saya mulai membuka2 kado yang isinya peralatan perang untuk ASIP, alhamdulillah semua barang2 kebutuhan saya jarang yang beli, semuanya pemberian dari bu oci (ada manager mkt di kantor) yang kebetulan juga sama2 abis periodnya mompa asi dikantor, mulai dari gabag cooler bag, ice gel (yang udah ada didalamnya) alhamdulillah & botol2 asi kaca yang turunan dari istri bosnya suami.
Hari H masuk kantor, untuk pertama kalinya saya ngantor udah kaya mau pulang kampung, bawaannya banyak hahahah, yah gitu deh ibu2 perintilannya banyak. Di hari pertama masuk kerja saya langsung ijin ke atasan saya (yang kebetulan orang jepang) jadi saya agak kurang tau apa dia familiar dengan aktifitas memompa asi di jam kerja seperti ini, ditambah atasan saya ini bukan orang lama, terhitung baru dia di Indonesia, dengan bermodalkan penjelasan singkat alhamdulillah beliau mengerti dan mengijinkan saya mendapatkan waktu untuk memompa di sela2 jam bekerja. Awalnya saya ijin 3x dalam sehari di jam 9, jam 1 dan jam 4, dan beliau mengiyakan. Karena kantor saya juga bukan kantor pemerintah yang menyediakan fasilitas super lengkap sampai ada ruangan untuk memompa asi akhirnya saya menyiasati untuk mencari ruangan yang sepi tidak dimasuki banyak orang dan harus ada colokannya (karena alat pompa asi saya elektrik), yap ruang server. Hanya itu yang paling memungkinkan dikantor saya. Ruang server atau sering disebut ruang IT adalah ruangan yang harus steril dari orang2, tidak sembarang orang boleh masuk karena pastinya segala jaringan dan database ada disana. Itu sangat mendukung untuk saya memompa asi.
Biasanya dalam satu kali memompa asi saya bisa menghabiskan 40 menit s/d 1 jam, jadi kurang lebih dalam satu hari saya 2 jam menghilang dari meja saya, di kantor kebetulan posisi saya sebagai sekretaris staff jepang yang mana para jepang2 itu kalau butuh apa2 pasti carinya saya dulu, yaa alhasil kadang suka ketar ketir kalau lagi mompa trus ada yang nyariin perlu apa2 malah jadinya ngga konsen dan mompanya jadi ngga maksimal. Ditambah karena setelah asi dipompa saya ngga bisa langsung masukin freezer tapi masukin ke kulkas biasa dulu (karena dikantor freezer tidak terlalu dingin jadi saya agak khawatir). Pulang kerumah asi dibawa pake cooler bag dari gabag, didalem cooler bag saya masukin ice gel atau ice box, tapi jadinya abis pulang kerja saya ngga bisa mampir2 ngeluyur atau kemana2 dulu, mesti langsung pulang karena jarak kantor rumah aja kalo pulang udah hampir 1,5 jam. Yaa walaupun sebenrnya ice gel bisa tahan sampe 6 jam sih, tapi kadang suka ga tenang sendiri aja.
Namun seiring dengan berjalannya waktu, dengan kesibukan dan yang terlebih rasa malas membuat saya tanpa sadar mengurangi waktu memompa saya dikantor (boong banget tanpa sadar). Ya, jadi hanya 2x sehari. Pas saya posting tentang perubahan jam memompa saya dikantor di social media lalu biasa deh banyak ibu2 yang komen "ko cuma 2x, paksain dong 3x nanti produksinya berkurang loh, emang ga dibolehin sama perusahaannya ya, kan harusnya perusahaan memberi ijin untuk kasih waktu untuk ibu baru untuk bisa memompa asi 3x sehari, dan sebagainya dan sebagainya" tapi sayangnya kuping saya kali ini sudah terlanjur bebel, udah kenyang sama omongan sama masukan orang yang "maaf" tidak sesuai dengan keadaan atau kondisi saya.
Kesimpulannya saya memompa asi 2x sehari jam 11 dan jam 4. Ya benar, jelas kuantitasnya tidak sebanyak ketika saya memompa 3x sehari. Kalau biasanya bisa dapat 5 botol asi sehari kalau 2x memompa cuma bisa bawa 3 botol sehari. Ya sudahlah itu juga sudah mampu menutupi kebutuhan asi si kecil, walau tidak berlebih. Tapi hari demi hari alhamdulillah asi yang terkumpul semakin banyak, padahal setiap hari cuma mompa 3x, siang jam 11, sore jam 4 dan malam jam 2 atau jam 3. Mompa dimalam hari itu banyak banget loh godaannya, ya ngantuklah ya maleslah, ya berat lah, macem2 deh tapi katanya produksi asi dimalam hari jauh lebih berlimpah dibandingkan pagi sampai sore hari jadi sayang kalau ngga dipompa.
Singkat cerita di usia baby risa yang ke 5 bulan dan sewa freezer juga sudah masuk bulan ke 3, suami menyarankan untuk berhenti sewa freezer karena mungkin kalau sewa akan berlangsung lama (ceritanya percaya diri asi eksklusif 2 tahun wkwkwk) dan kami memutuskan membeli beli freezer yang lebih besar karena memang sudah mulai penuh yay!
Sedikit tips untuk para buibu yang lagi berjuang buat koleksi asip untuk sikecil:
- Pastikan hati selalu happy, jangan stress (para ayah pasti ngga akan percaya power of happiness itu sangat berpengaruh terhadap kuantitas asi yang diperoleh, tapi ya begitu kenyataannya)
- Memompa asi yang rutin (kalau bisa dijam yang sama, sehingga tubuh memberikan sinyal untuk memproduksi lebih dijam2 tersebut, katanya sih gitu, tapi bener)
- Makan & minum yang banyak (sebenernya ngga perlu maksain buat makan banyak sih, tiap abis nyusuin atau mompa asi kita pasti laper & haus sendiri ko, jadi pasti mau ngga mau jadi makan banyak heheh)
- Biasanya asi baru akan stabil di bulan2 ke 3 atau ke 4 (tiap ibu beda2 sih) kalau saya dibulan ke 4 baru stabil, jadi sampai bulan ke 3 menjelang 4 saya terus mengkonsumsi asi booster, yang saya minum itu kapsul hulbah dan breast milk honey, alhamdulillah jadi terasa lebih banyak
Sedikit info untuk ibu2 yang butuh gambaran tentang management asip:
- Semua peralatan memompa baik dari breast pump, botol kaca asi, plastik asi harus berada dalam keadaan bersih sebelum digunakan, cuci dengan sabun dan sebaiknya disterilkan atau direndam di air panas terlebih dahulu
- Asi yang diletakkan di kulkas biasa mampu bertahan sampai 7 hari, asi yang diletakkan difreezer yang ada didalam kulkas bertahan selama 1 bulan sementara asi yang diletakan di freezer satu pintu dapat bertahan 3 bulan
- Asip yang sudah beku sebaiknya tidak langsung dipanaskan, jika untuk diminum esok hari sebaiknya dari malam harinya sudah diletakkan di kulkas biasa agar besok ketika ingin dikonsumsi asip tsb sudah mencair
- Asip cair dari botol yang dingin tidak boleh direbus agar panas, tidak boleh diletakan diatas kompor, untuk menghangatkannya hanya perlu diletakan diatas air hangat
- Asip beku yang sudah cair tidak dapat dibekukan kembali
- Asip beku yang sudah cair harus diminum dalam waktu tidak lebih dari 24 jam
- Asip yang sudah hangat dan siap minum juga tidak dapat didinginkan kembali untuk disimpan
- Asip sebaiknya disimpan sesuai dengan takaran minum si kecil, agar bisa habis satu kali minum
- Labeli semua asip yang akan distorage (beri nomor, tanggal, jam dan brp ml) agar bisa tau kapan masa kadaluarsa asip tersebut
- Sebaiknya tidak meletakan asip dibagian pintu freezer karena suhunya mudah berubah (namun kalo saya pribadi karena kondisi kulkas yang kepenuhan memaksa saya meletakan itu dipintu, dan untuk asip yang diletakan dipintu sebaiknya dikeluarkan lebih dulu)
Tambahan tips buat buibu yang kerja dan ninggalin anaknya dirumah dengan mbak atau dengan orang tua:
Management asip ini pada dasarnya susah2 gampang, kalau dibilang susah ngga juga, tapi dibilang gampang ngga juga, karena asi itu sendiri mengandung banyak sel dan cairan hidup, mereka bilang kandungan terbesarnya adalah darah jadi salah2 penyajiannya makan kandungannya bisa hilang kan jadinya sayang. Jadi sebaiknya:
- Ajarkan si pengasuh bayi (entah si mbak atau orang tua) cara menyajikan asip yang benar
- Untuk bayi dibawah 3 bulan sebaiknya jangan dulu diberikan asip dari dot melainkan dengan cup feeder atau alat lainnya, karena dot takut menyebabkan bayi terlena dan malas menyusu langsung. Tapi untuk bayi diatas 3 bulan mereka biasanya sudah bisa membedakan mana dot dan mana puting jadi biasanya sudah tidak ada masalah
Jadi ibu itu menyenangkan, memang tidak sepenuhnya happy, bahkan bisa dibilang kebanyakan sulitnya dibanding senangnya, tapi percaya deh, nanti ketika anak kita udah 2 tahun ketika ga ada lagi nenen ga ada lagi mpasi kita pasti bakal kangen banget masa2 ini.
Mudah2an saya bisa memanfaatkan moment ini dengan sebaik2nya ya, biar ga nyesel nantinya.
Happy mommy happy family ;)
Menghitung hari risa di detik2 risa mau ke 6 bulan. Dan melihat stock ASIP yang alhamdulillah masih satu freezer insyaallah yakin kalau si kecil akan sukses asi eksklusif 6 bulan (yang kecolongan 3x ngasih pisangnya ga usah diitung yah please heheheh).
Di tulisan kali ini aku mau bagi cerita sedikit tentang kisah si pejuang asi. Tanpa sedikitpun mengurangi rasa takjub kepada para ibu yang stay at home ngejaga babynya seorang diri, saya sebagai ibu yang bekerja juga mau memberikan seribu jempol ke ibu2 yang bekerja namun tetap dengan kekehnya berusaha memberikan asi untuk anak tercintanya.
Dimulai sejak sebelum melahirkan saya udah banyak browsing2 tentang manajemen ASIP dan kisah para ibu2 pejuang asi. Sedikit banyak saya sudah tau dan ada gambaran bagaimana suka dukanya si pejuang asi. Tapi sayangnya yang saya alami tidak seindah yang ada di tulisan atau di blog2 para ibu2 yang saya baca. Pelajaran yang saya petik, jangan lihat hasilnya, kita juga perlu tau prosesnya, banyaknya foto2 di instagram yang memajang asip beku yang penuh didalam kulkas freezer milik para ibu2 membuat saya berpikir dan mengganggap itu semua mudah dan semua ibu akan mampu mendapatkan hal yang sama.
Sampai usia 3 bulan baby risa masih menyusu langsung dari saya, dan sejak usianya menginjak satu setengah bulan itu saya berusaha sebisa mungkin atau bisa dibilang memaksakan diri untuk bisa mulai rutin memompa asi disela2 ketika baby risa tidur, karena semenjak baby risa sudah bisa menyusu langsung di bulan pertama saya jadi keenakan dan lupa kalau saya punya kewajiban untuk "menabung" untuk nantinya ketika saya harus kembali kerja dan meninggalkan si kecil nantinya. Banyak dari artikel yang saya baca juga katanya semakin banyak asi dikeluarkan sama dengan jumlah asi yang nantinya akan re-produksi. Bermodalkan dari bacaan itu saya mulai mencoba, karena jadwal menyusu baby risa baru mulai teratur diusianya menginjak satu setengah bulan saat itu maka baru saat itu juga saya bisa "menabung" asi.
Setiap hari baby risa menyusu kurang lebih 10x dengan durasi kurang lebih 20 menit, namun saat itu saya merasa produksi asi saya belum berlebih sehingga saya masih ketakutan kalau saya paksakan memompa maka jatah asi untuk si kecil bisa berkurang.
Saya putar otak, saya coba memompa setelah menyusui jadi seberapapun asi yang saya dapat setidaknya baby risa sudah dalam keadaan kenyang, jadi saya tidak terlalu merasa bersalah jika memompa terlebih dahulu dan keadaan payudara mengempis asumsi saya susu yang dia dapat akan sedikit (sekali lagi ini asumsi pribadi).
Ini stock asip pertama saya,
Awalnya sedih sih karena masih sedikit banget.. Tapi 40 hari menjelang masuk kerja saya sukses memompa 2x sehari, siang 80cc dan malam biasanya 100-120cc 20 hari berlalu saya sukses mengumpulkan kurang lebih 40 botol, saat itu saya masih menggunakan freezer yang ada dirumah, saya masukan saya tumpuk2 dan kondisinya juga masih berantakan. Entah bagaimana percaya diri saya begitu tinggi, saya yakin jumlah stock asi saya bisa lebih banyak lagi kalau baru 20 hari saja saya bisa mengumpulkan sebanyak ini.
Pertengahan februari saya memutuskan menyewa freezer khusus asi, isinya terdiri dari 4 rak begitu juga dipinggiran pintunya, dengan kapasitas banyak dan memang satu kulkas ini khusus untuk menyimpan asi jadi saya juga merasa aman asi saya tidak perlu sebelahan dengan daging2 atau ayam ataupun makanan beku & amis yg lainnya (krn katanya tidak boleh dicampur dengan makanan yang berbau amis)
Dan ini hasilnya alhamdulillah sudah lumayan banyak:
Namun ternyata perjuangan tidak semudah itu di menjelang masuk kerja entah bagaimana asi saya tidak keluar banyak, ada bejolan di payudara yang keras dan bila dipegang sakitnya luar biasa. Banyak orang bilang itu asi yang menggumpal dipayudara harus dipijat, dikompres, diuyek dan macam2 lah pokonya. Tapi masih ngga keluar juga, coba kedokter malah dipencet2 sama dokternya, sakitnya pake banget. Segala macem diusahain dan taunya 4-5 hari kedepan dia ilang sendiri. KZL
Singkat cerita saya siap untuk masuk kerja seminggu menjelang masuk kerja saya mulai membuka2 kado yang isinya peralatan perang untuk ASIP, alhamdulillah semua barang2 kebutuhan saya jarang yang beli, semuanya pemberian dari bu oci (ada manager mkt di kantor) yang kebetulan juga sama2 abis periodnya mompa asi dikantor, mulai dari gabag cooler bag, ice gel (yang udah ada didalamnya) alhamdulillah & botol2 asi kaca yang turunan dari istri bosnya suami.
Hari H masuk kantor, untuk pertama kalinya saya ngantor udah kaya mau pulang kampung, bawaannya banyak hahahah, yah gitu deh ibu2 perintilannya banyak. Di hari pertama masuk kerja saya langsung ijin ke atasan saya (yang kebetulan orang jepang) jadi saya agak kurang tau apa dia familiar dengan aktifitas memompa asi di jam kerja seperti ini, ditambah atasan saya ini bukan orang lama, terhitung baru dia di Indonesia, dengan bermodalkan penjelasan singkat alhamdulillah beliau mengerti dan mengijinkan saya mendapatkan waktu untuk memompa di sela2 jam bekerja. Awalnya saya ijin 3x dalam sehari di jam 9, jam 1 dan jam 4, dan beliau mengiyakan. Karena kantor saya juga bukan kantor pemerintah yang menyediakan fasilitas super lengkap sampai ada ruangan untuk memompa asi akhirnya saya menyiasati untuk mencari ruangan yang sepi tidak dimasuki banyak orang dan harus ada colokannya (karena alat pompa asi saya elektrik), yap ruang server. Hanya itu yang paling memungkinkan dikantor saya. Ruang server atau sering disebut ruang IT adalah ruangan yang harus steril dari orang2, tidak sembarang orang boleh masuk karena pastinya segala jaringan dan database ada disana. Itu sangat mendukung untuk saya memompa asi.
Biasanya dalam satu kali memompa asi saya bisa menghabiskan 40 menit s/d 1 jam, jadi kurang lebih dalam satu hari saya 2 jam menghilang dari meja saya, di kantor kebetulan posisi saya sebagai sekretaris staff jepang yang mana para jepang2 itu kalau butuh apa2 pasti carinya saya dulu, yaa alhasil kadang suka ketar ketir kalau lagi mompa trus ada yang nyariin perlu apa2 malah jadinya ngga konsen dan mompanya jadi ngga maksimal. Ditambah karena setelah asi dipompa saya ngga bisa langsung masukin freezer tapi masukin ke kulkas biasa dulu (karena dikantor freezer tidak terlalu dingin jadi saya agak khawatir). Pulang kerumah asi dibawa pake cooler bag dari gabag, didalem cooler bag saya masukin ice gel atau ice box, tapi jadinya abis pulang kerja saya ngga bisa mampir2 ngeluyur atau kemana2 dulu, mesti langsung pulang karena jarak kantor rumah aja kalo pulang udah hampir 1,5 jam. Yaa walaupun sebenrnya ice gel bisa tahan sampe 6 jam sih, tapi kadang suka ga tenang sendiri aja.
Namun seiring dengan berjalannya waktu, dengan kesibukan dan yang terlebih rasa malas membuat saya tanpa sadar mengurangi waktu memompa saya dikantor (boong banget tanpa sadar). Ya, jadi hanya 2x sehari. Pas saya posting tentang perubahan jam memompa saya dikantor di social media lalu biasa deh banyak ibu2 yang komen "ko cuma 2x, paksain dong 3x nanti produksinya berkurang loh, emang ga dibolehin sama perusahaannya ya, kan harusnya perusahaan memberi ijin untuk kasih waktu untuk ibu baru untuk bisa memompa asi 3x sehari, dan sebagainya dan sebagainya" tapi sayangnya kuping saya kali ini sudah terlanjur bebel, udah kenyang sama omongan sama masukan orang yang "maaf" tidak sesuai dengan keadaan atau kondisi saya.
Kesimpulannya saya memompa asi 2x sehari jam 11 dan jam 4. Ya benar, jelas kuantitasnya tidak sebanyak ketika saya memompa 3x sehari. Kalau biasanya bisa dapat 5 botol asi sehari kalau 2x memompa cuma bisa bawa 3 botol sehari. Ya sudahlah itu juga sudah mampu menutupi kebutuhan asi si kecil, walau tidak berlebih. Tapi hari demi hari alhamdulillah asi yang terkumpul semakin banyak, padahal setiap hari cuma mompa 3x, siang jam 11, sore jam 4 dan malam jam 2 atau jam 3. Mompa dimalam hari itu banyak banget loh godaannya, ya ngantuklah ya maleslah, ya berat lah, macem2 deh tapi katanya produksi asi dimalam hari jauh lebih berlimpah dibandingkan pagi sampai sore hari jadi sayang kalau ngga dipompa.
Singkat cerita di usia baby risa yang ke 5 bulan dan sewa freezer juga sudah masuk bulan ke 3, suami menyarankan untuk berhenti sewa freezer karena mungkin kalau sewa akan berlangsung lama (ceritanya percaya diri asi eksklusif 2 tahun wkwkwk) dan kami memutuskan membeli beli freezer yang lebih besar karena memang sudah mulai penuh yay!
Sedikit tips untuk para buibu yang lagi berjuang buat koleksi asip untuk sikecil:
- Pastikan hati selalu happy, jangan stress (para ayah pasti ngga akan percaya power of happiness itu sangat berpengaruh terhadap kuantitas asi yang diperoleh, tapi ya begitu kenyataannya)
- Memompa asi yang rutin (kalau bisa dijam yang sama, sehingga tubuh memberikan sinyal untuk memproduksi lebih dijam2 tersebut, katanya sih gitu, tapi bener)
- Makan & minum yang banyak (sebenernya ngga perlu maksain buat makan banyak sih, tiap abis nyusuin atau mompa asi kita pasti laper & haus sendiri ko, jadi pasti mau ngga mau jadi makan banyak heheh)
- Biasanya asi baru akan stabil di bulan2 ke 3 atau ke 4 (tiap ibu beda2 sih) kalau saya dibulan ke 4 baru stabil, jadi sampai bulan ke 3 menjelang 4 saya terus mengkonsumsi asi booster, yang saya minum itu kapsul hulbah dan breast milk honey, alhamdulillah jadi terasa lebih banyak
Sedikit info untuk ibu2 yang butuh gambaran tentang management asip:
- Semua peralatan memompa baik dari breast pump, botol kaca asi, plastik asi harus berada dalam keadaan bersih sebelum digunakan, cuci dengan sabun dan sebaiknya disterilkan atau direndam di air panas terlebih dahulu
- Asi yang diletakkan di kulkas biasa mampu bertahan sampai 7 hari, asi yang diletakkan difreezer yang ada didalam kulkas bertahan selama 1 bulan sementara asi yang diletakan di freezer satu pintu dapat bertahan 3 bulan
- Asip yang sudah beku sebaiknya tidak langsung dipanaskan, jika untuk diminum esok hari sebaiknya dari malam harinya sudah diletakkan di kulkas biasa agar besok ketika ingin dikonsumsi asip tsb sudah mencair
- Asip cair dari botol yang dingin tidak boleh direbus agar panas, tidak boleh diletakan diatas kompor, untuk menghangatkannya hanya perlu diletakan diatas air hangat
- Asip beku yang sudah cair tidak dapat dibekukan kembali
- Asip beku yang sudah cair harus diminum dalam waktu tidak lebih dari 24 jam
- Asip yang sudah hangat dan siap minum juga tidak dapat didinginkan kembali untuk disimpan
- Asip sebaiknya disimpan sesuai dengan takaran minum si kecil, agar bisa habis satu kali minum
- Labeli semua asip yang akan distorage (beri nomor, tanggal, jam dan brp ml) agar bisa tau kapan masa kadaluarsa asip tersebut
- Sebaiknya tidak meletakan asip dibagian pintu freezer karena suhunya mudah berubah (namun kalo saya pribadi karena kondisi kulkas yang kepenuhan memaksa saya meletakan itu dipintu, dan untuk asip yang diletakan dipintu sebaiknya dikeluarkan lebih dulu)
Tambahan tips buat buibu yang kerja dan ninggalin anaknya dirumah dengan mbak atau dengan orang tua:
Management asip ini pada dasarnya susah2 gampang, kalau dibilang susah ngga juga, tapi dibilang gampang ngga juga, karena asi itu sendiri mengandung banyak sel dan cairan hidup, mereka bilang kandungan terbesarnya adalah darah jadi salah2 penyajiannya makan kandungannya bisa hilang kan jadinya sayang. Jadi sebaiknya:
- Ajarkan si pengasuh bayi (entah si mbak atau orang tua) cara menyajikan asip yang benar
- Untuk bayi dibawah 3 bulan sebaiknya jangan dulu diberikan asip dari dot melainkan dengan cup feeder atau alat lainnya, karena dot takut menyebabkan bayi terlena dan malas menyusu langsung. Tapi untuk bayi diatas 3 bulan mereka biasanya sudah bisa membedakan mana dot dan mana puting jadi biasanya sudah tidak ada masalah
Jadi ibu itu menyenangkan, memang tidak sepenuhnya happy, bahkan bisa dibilang kebanyakan sulitnya dibanding senangnya, tapi percaya deh, nanti ketika anak kita udah 2 tahun ketika ga ada lagi nenen ga ada lagi mpasi kita pasti bakal kangen banget masa2 ini.
Mudah2an saya bisa memanfaatkan moment ini dengan sebaik2nya ya, biar ga nyesel nantinya.
Happy mommy happy family ;)
Monday, May 11, 2015
Problems of a newbie mom
Semenjak baby risa lahir waktu ko kayanya cepet banget ya.
Hari ini baby risa udah umur 5 bulan, bener2 ngga berasa ya. Mau share sedikit tentang lika liku ibu baru.
Kalo ada orang yang berfikir seorang ibu yang baru punya baby itu pasti HAPPY (cuma HAPPY) ketika ia melahirkan seorang bayi its totally WRONG. Loh kenapa? bukannya punya bayi itu nyenengin ya, lucu, ada yang bisa dimainin, ada suara tangis yang bisa bikin rumah jadi ramai.
Ok mungkin sekilas untuk orang yang belum jadi "ibu" akan bilang seperti itu, tapi untuk ibu "kagetan" seperti saya sih jawabannya STRESS.
1. Post Delivery Problem (Pasca melahirkan normal)
Pertama masalah melahirkan (yang mungkin kisahnya udah saya ceritain di postingan sebelumnya). sakitnya melahirkan secara normal, banyaknya pantangan apalagi karena keluarga saya (lebih tepatnya keluarga suami) masih cukup kolot sehingga masih pake banyak pantangan yang harus dilakuin sama ibu yang baru melahirkan sampai dia 40 hari. You may be surprised kalau tau detailnya:
- Sampai 40 hari :
- Harus keramas setiap hari
- Ngga boleh keluar rumah (ini mungkin masih banyak ya yang pake kebiasaan ini)
- Ngga boleh tiduran terlentang (harus setengah duduk, katanya sih biar sel darah putih ngga naik ke kepala)
- Ngga boleh tidur siang (paling ngeselin sih yang ini, secara tidur bayi kan ga bs diprediksi ya, jadi ketika bayi tidur yang saya tau sebaiknya kita juga tidur supaya ngga kelelahan dimalam hari kalau harus begadang)
- Ngga boleh tekuk kaki ketika duduk (kalau ini kayanya supaya ngga varises)
- Ngga boleh makan ini itu anu eno zzz cuma boleh ini itu ano eno zzz
- Harus diurut pasca melahirkan katanya 7 hari - 15 hari - 1 bulan - 40 hari
- Harus minum jamu pasca melahirkan (rasanya gak enak)
Kalo seputar bayinya:
- Bayi cegukan dikasih kertas dikepala
- Plasenta dikubur dengan diberi lentera
- Tali pusar yang sudah puput digantung dicahaya
- Pusar ditekan koin agar tidak bodong
Dan masih banyak lagi kebiasaan2 yang harus saya ikuti, ya namanya juga adat ikutin aja deh dari pada benjol
2. Breastfeeding Problem
BINGUNG PUTING
Bagian ini yang paling menguras air mata. Gimana ngga dari baru lahir risa udah ngga mau nyusu langsung, entah apa dan kenapa setiap ditempelin ke puting dia selalu kesel dan marah2. orang2 bilang "tuh putingnya kekecilan dia jadi kesel/ asinya ga ada tuuh udah kasih susu botol aja/ kasian iih anaknya nangis terus asinya ngga cukup kali tuh kasih aja formula ga papa/ ah anak2 saya juga dari kecil udah sufor sehat2 aja tuh/ ih tega amat sih anaknya nangis ga mau nenen juga masih dijejelin terus/dan seterusnya dan seterusnyaa) di saat seperti itu yang saya harus lakuin cuma 1 tutup kuping dan anggap orang2 itu ngga ada, berharap suami mendukung dan terus support kita, tapiiii sayangnya saat itu suami sempet kebawa sama omongan orang2 :'( dan saat itulah saya ngerasa jadi orang paling merana sedunia, dibilang tega dibilang ga becus kasih yang terbaik buat anak yang inilah itulah. Tanpa mereka tau orang yang paling sedih dan paling terpukul ketika ngeliat anak ngga mau nyusu itu bukan mereka bukan siapa2 tapi saya IBUNYA. Saya setiap malam nangis kalau liat baby risa yang beratnya terus menerus turun. Berat lahirnya 3000gr tapi selama 3 weeks berangsur turun jadi 2400gr. rasanya kaya ditampar, semua orang seperti menekan saya.
Baby blue mereka bilang, ya saya stress untungnya tidak sampai membuat jiwa saya terganggu. Jangan bilang ini lebay tapi saya benar2 hampir tidak tidur selama 24 jam, anak saya terus nangis, berat badannya terus turun, tidak bisa menyusu, tidak mau tidur, terus dan terus nangis, semua orang sudah seperti orang paling benar sedunia yang melihat saya dengan keras kepalanya tidak mau memberi anak saya susu formula.
1 minggu berlalu banyak orang kasih saran "kalau ngga mau kasih sufor itu asinya dipompa aja kasih pake dot, kasian dia ga bisa nenen krn putingnya kecil". Saya coba mengalahkan egois saya, melunakkan hati saya dan coba untuk mendengar apa yang orang bilang. Satu yang ada didalam pikiran saya "ah udahlah ngga apa2 pake dot, toh yang penting yang dia minum itu asi bukan susu formula". Lalu saya mulai mompa, setelah saya pompa dia minum susu dari dot dengan begitu lahapnya, melihat itu saya senang campur tenang, sehingga setiap hari saya selalu mompa asi dan nyetok sedikit demi sedikit, untuk akhirnya dikasih ke baby risa pake dot
Ini hasil minggu2 pertama saya mompa asi dan nyetok asi untuk baby risa
Seminggu berlalu baby risa masih terus minum asi lewat botol dot. Dia terlihat lebih tenang. Minumya semakin banyak dan saya mulai kualahan. Jadwal mompa asi dan jadwal minumnya mulai kejar2an. 2 minggu berlalu saya pikir kayanya ngga bisa terus menerus kaya ini. Mompa asi terus menerus untuk dikonsumsi bayi sementara ibunya ada disampingnya yang seharusnya bisa menyusuinya secara langsung. Saya berpikir kalau diterusin saya akan makin kerepotan. Banyak artikel dari internet saya baca. Banyak teman dan orang2 saya tanya. Semua cara saya coba, dari pijat payudara, suntik puting, nipple shield (penyambung puting) dan segala cara saya coba supaya anak saya mau menyusu langsung dari saya. Setiap malam dia menangis mungkin karena lapar karena saya memaksakan agar dia menyusu langsung sementara dia belum bisa menyedot lewat puting. Suami juga kurang support, bisa dibilang saat itu saya hampir berjuang sendirian. Sempat terbersit dihati saya "ya Allah kalau memang tidak diizinkan saya memberikan ASI eksklusif untuk anak saya setidaknya saya sudah berusaha". Tapi nan jauh dimata kaka ipar saya terus mendukung saya. Dia lebih keras kepala dari saya, wajar ia sudah beranak satu dan ia tau bagaimana sulitnya.
Dia terus bilang "bisa koo semua ibu bisa, semua ibu punya asi cukup, semua ibu bisa nyusuin, tinggal gimana kitanya aja yang mau sabar apa ngga". Sempet semangat disupport terus kaya gitu. Tapi malah begini hasilnya
Dia semakin kurus. beratnya juga belum mau naik. Lalu saya konsultasi ke dokter laktasi. Saya ceritain deh tuh masalah saya. Ternyata menurut dokter, bayi saya mengalami BINGUNG PUTING, semua itu disebabkan oleh BOTOL DOT. Ia sudah terbuai dengan mudahnya menyusu lewat dot. nipple yang besar dan aliran susu yang deras jelas jauh berbeda dengan puting dari payudara ibunya. Dia jadi malas dan tidak mau menyusu. Dokter menyarankan agar saya selama satu minggu kedepan tidak sama sekali memberikan botol dot kepada anak saya. "paksa terus nenenin ya bu, jangan sekalipun pakai dot lagi, kalau dia sudah benar2 kehausan pakai cup feeder, pokonya jangan lagi coba2 pake dot, atau ibu nanti makin repot kedepannya"
Sampai dirumah saya mulai coba singkirin dot dan lagi2 dengan keras kepala menyusui anak dari payudara. Setiap kali dia haus dia mengamuk, dia tidak mau menyusu lewat payudara langsung. Dia bisa menghisap namun tidak menelan asi yang banyak. Alhasil ketika dia lelah menangis ia tertidur, namun disela tidurnya dia masih dalam keadaan lapar, saya sering mendengar suara perutnya yang bunyi karena keroncongan. Sebagai ibu saya hampir merasa menjadi ibu yang gagal. Suami saya yang bukannya membantu malah marah2 karena melihat saya yang terlalu keras kepala. Dia selalu menyuruh saya memberi susu lewat botol dot. Dia type yang "yang penting anak kenyang" tanpa memikirkan dampak apa yang terjadi kalau saya tetap teruskan memberi susu dengan menggunakan dot.
Masih menangis, setiap malam setiap melihat dia tertidur saya pasti menangis. Menangis tidak tega sambil berpikir dalam hati "saya ibu yang gagal, saya ibu yang tega, saya tidak bisa memberikan yang terbaik untuk anak saya" melihat dia yang semakin kurus menjerit hati saya. Tapi saya masih dengan ke-batu-an saya. Katanya kalau mau sukses asi eksklusif itu harus keras kepala.
Hampir 3 minggu berlalu untuk pertama kalinya saya mendengar baby risa menelan ketika menyusui. bukan main bahagianya hati saya. Percayalah semua orang akan bilang saya lebay. ya pasti. tapi kalau tau bagaimana perjuangan saya setiap hari berusaha agar dia bisa menyusu langsung itu sungguh jatuh bangun. menguras air mata dan mengobrak abrik hati dan pikiran saya, jadi seteguk saja suara menelan saya dengar, menetes air mata saya. "terima kasih ya Allah entah apa yang harus saya ucapkan lagi tapi semoga ini adalah awal yang baik untuk kedepannya".
4 minggu berlalu baby risa sudah bisa menyusu, tapi ia masih sering menangis, tidurnya tidak nyenyak, mereka bilang karena masih haus, mereka bilang asi saya sedikit, asi saya kurang kental, asi saya begini, asi saya begitu, terus tidak ada habisnya mendengarkan omongan orang. Mereka semua sarankan saya kasih anak saya pisang sebagai tambahan, oh I'm a big NO NO, saya keras kepala tidak ada asupan lain selain asi untuk anak saya. tapi lagi2 cobaan terbesar datang bukan dari luar melainkan dari dalam rumah saya sendiri. ya dia suami saya. dia terlalu mendengar omongan orang. dia terlalu takut anaknya kurang asupan, dia terlalu khawatir melihat anak saya yang kurus dan terlihat kurang segar.
Singkat cerita akhirnya di usia dia yang ke 1 bulan baby risa dikasih pisang, melihat mba saya menyuapi pisang sempat ingin menjerit hati saya, periiiihh ngeliatnyaaa, saya ke kamar ngga mau liat, saya nangis, saya merasa bodoh membiarkan anak saya dikasih pisang tapi saya ngga bisa berbuat apa2.
3 hari, sehari sekali baby risa dikasih pisang, mau jedug jedug kepala rasanya. Jedar jeder hati ini. dalem hati cuma bisa minta maaf dan maaf terus. Tiap solat terus doa terus nangis minta dibantu. Sampai hari yang ke 3 dia dikasih pisang baby risa sudah mulai tenang. Saya jadi ada alasan untuk meminta mba nya stop kasih dia pisang. Setiap hari saya susui dia, sedetikpun saya berusaha agar tidak membuatnya menangis, melihat tanda2 dia mau menangis langsung saya susui dia, karena setiap dia menangis hampir seluruh isi rumah datang ke kamar menghampiri saya dan bertanya "kenapa nangis, aus tuh aus, lapar tuh, kurang tuh susunya, masih lapar, susuin lagi" mau saya tembak rasanya semua orang yang terus menekan saya seperti itu. Begitu pahitnya diminggu2 pertama kelahiran baby risa. Saya merasa begitu tertekan. Ingin rasanya lari dan tinggal sendiri jauh dari orang2 yang membuat saya semakin kalut.
Di menjelang usianya yang ke 40 hari jadwal dan durasi nenennya semakin stabil, tidurnyapun semakin banyak, saya jadi dapat waktu tidur walau sebentar2. Saya merasa hari2 semakin mudah dilalui. Terimakasih banyak ya Allah, kau permudah proses breastfeeding ini dengan cepat & tidak terlalu lama.
Melihat baby risa yang sudah mulai normal jam menyusunya saya berniat untuk memulai kembali memompa asi untuk stock ketika waktu cuti saya habis dan harus kembali bekerja. Saya mulai sedikit demi sedikit memompa. Namun apa yang terjadi?
PUTING SAKIT LECET, PECAH-PECAH & BERDARAH
Cobaan apa lagi ini. ketika menyusu sudah mulai membaik, puting saya malah didera lecet dan hampir terbelah. Mungkin itu disebabkan oleh frekuensi memompa yang terlalu sering dan peletakan mulut bayi yang kurang tepat di puting, perpaduan gusi bayi baru lahir, tounge tie & lip tie yang tajam, serta sedotan pompa asi yang membuat puting saya akhirnya rusak juga.
Berawal dari merah2, lalu perih, berdarah, terbelah sampai keluar nanah *merinding sendiri ngebayanginnya* udah coba cek juga ke dokter, mereka bilang kasih salep untuk puting kasih ini kasih itu alhasil tetep ngga sembuh juga, mau berenti nenenin dulu biar sampe sembuh tapi ngga bisa juga karena asi harus tetap keluar untuk menjaga kuantitas tetap stabil, kalau tidak disedot bayi payudara akan bengkak, badan meriang dan produksi asi malah akan berhenti karena kepenuhan.
Lalu saya harus apa?
Ya harus tahan lah!
Setiap kali baby risa mulai ngulet2 tanda haus atau mau nenen pasti payudara saya udah terasa senat senut sakitnya, bulu kuduk saya merinding, blm juga mendarat mulut baby ke puting saya tapi rasa sakitnya udah sampe duluan. sedih ya.
Lalu saya harus apa?
Ya harus tahan lah!
Hampir satu bulan kalau ngga salah ingat saya tahan rasa sakit ini, tiap mulutnya nempel dipayudara saya seperti lagi mengerang, meremas otot2 saya dan meremas bantal sambil menutup mulut takut teriak dan malah mengagetkan si baby nantinya. Sedih ya.
Lalu saya harus apa?
Masih nanya juga? Ya terima nasib aja.
BREASTFEEDING PROBLEM SOLVED
Hallo para bapaaakk? Apa kabaaaarr? Gimana perubahannya setelah punya baby?
Masih main COC laaahh! *gubrak!*
Ya begitulah lika liku problema ibu baru.
Alhamdulillah menginjak 2 ke 3 bulan berat badan baby risa semakin membaik, dia mendapatkan kembali beratnya yang sempat menurun, minggu ke minggu, bulan ke bulan ia terus menggemuk, semua orang memuji, semua orang senang melihat dia kembali ceria (tapi apa mereka peduli susah & setengah mati ibunya bisa bikin dia kaya gini? kayanya ngga -__-' yaudah sih terima aja)
Sekarang baby risa alhamdulillah udah segede dan selucu ini,
Mudah2an orang2 yang suka nyinyir, suka negatif thinking atau suka intervene orang segera punah ya, percaya aja setiap orang tua pasti akan melakukan yang terbaik untuk anak2nya.
Sebentar lagi baby risa umur 6 bulan, dia akan mulai makan, kita sebutnya MPasi (Makanan Pendamping Asi), sebelum banyak masalah yang muncul, sebelum drama dimulai seperti sebelum2nya, saya didaftarin suami ikut parenting class untuk membahas lika liku dan kiat sukses MPasi untuk anak 6 bulan.
We'll see, problema apa lagi yaa yang akan terjadi sama saya & baby risa. Tunggu tanggal mainnya & semoga yang kali ini ngga lagi menguras air mata ya.
Bismillah :)
Thursday, April 23, 2015
Happy 1st Wedding Anniversary (March 15 2015)
You are power on my weakness
You are shoulder for my tears
You are a cage to come and back
You are my flooding tears
You are my big problems
You are my sweetest cake
You are my medicine
You are demon inside my angel
You are rainbow in my blue sky
You are the sharpest knife
You are the hardest stone
We are shoes, I'm standing behind you, you standing in front of me
We are spoon and fork
I'm your naughty lil girl and you my father
I'm your annoying sister and you my big brother
I'm your fan and you my role model
We are complete, we are one!
Happy 1st Wedding Anniversary
Thank you for this happy life
For unstoppable laugh
For unconditional love
xoxo
You are shoulder for my tears
You are a cage to come and back
You are my flooding tears
You are my big problems
You are my sweetest cake
You are my medicine
You are demon inside my angel
You are rainbow in my blue sky
You are the sharpest knife
You are the hardest stone
We are shoes, I'm standing behind you, you standing in front of me
We are spoon and fork
I'm your naughty lil girl and you my father
I'm your annoying sister and you my big brother
I'm your fan and you my role model
We are complete, we are one!
Happy 1st Wedding Anniversary
Thank you for this happy life
For unstoppable laugh
For unconditional love
xoxo
Rainbow after the storm
Suara yang bergetar,
Tulang yang meremuk,
Nafas yang terengah,
Tubuh yang melemah,
Perlahan seperti membunuhku
Ruangan yang sempit seolah berputar, mengelilingiku, terus mengitariku
Peralatan bedah seolah beterbangan
Seakan semua marah dan mencoba menusukku
Manusia-manusia yang seketika terlihat menyeramkan
Bertanduk dan hendak membunuhku
Semua berputar, menyatu jadi satu
Aku berteriak seakan meminta tolong
Namun suara ini tak kunjung terdengar
Semua sibuk menyiksaku, semua hendak membunuhku
Aku mengerang, aku merintih, aku terus bergerak berusaha melepaskan diri dari tambang yang begitu besar melilit tubuhku
Aku menjerit, aku berteriak, ku pejamkan mata dan semakin keras berteriak
Seketika gelap mataku, hilang kesadaranku
Perlahan ku dengar sayu suara adzan, ku buka mataku perlahan
Kurasa sesuatu menimpa tubuhku
Terus ku paksa ku buka mataku
Ternyata sesosok malaikat kecil berada tepat di dadaku
Ia tersenyum memelukku
Jarinya yang lembut sesekali mengusap kulitku
Ku gerakan jemari tanganku, ku peluk ia, ku cium dia
Menetes air mataku
Terima kasih tuhan, kau kirimkan ia menjadi pelengkap hidupku.
Charisa Qatrunnada Ramdani
3000 gram 49 cm
Rabu, Desember 10, 2014 - 03.00
RSB Permata Sarana Husada
Tulang yang meremuk,
Nafas yang terengah,
Tubuh yang melemah,
Perlahan seperti membunuhku
Ruangan yang sempit seolah berputar, mengelilingiku, terus mengitariku
Peralatan bedah seolah beterbangan
Seakan semua marah dan mencoba menusukku
Manusia-manusia yang seketika terlihat menyeramkan
Bertanduk dan hendak membunuhku
Semua berputar, menyatu jadi satu
Aku berteriak seakan meminta tolong
Namun suara ini tak kunjung terdengar
Semua sibuk menyiksaku, semua hendak membunuhku
Aku mengerang, aku merintih, aku terus bergerak berusaha melepaskan diri dari tambang yang begitu besar melilit tubuhku
Aku menjerit, aku berteriak, ku pejamkan mata dan semakin keras berteriak
Seketika gelap mataku, hilang kesadaranku
Perlahan ku dengar sayu suara adzan, ku buka mataku perlahan
Kurasa sesuatu menimpa tubuhku
Terus ku paksa ku buka mataku
Ternyata sesosok malaikat kecil berada tepat di dadaku
Ia tersenyum memelukku
Jarinya yang lembut sesekali mengusap kulitku
Ku gerakan jemari tanganku, ku peluk ia, ku cium dia
Menetes air mataku
Terima kasih tuhan, kau kirimkan ia menjadi pelengkap hidupku.
Charisa Qatrunnada Ramdani
3000 gram 49 cm
Rabu, Desember 10, 2014 - 03.00
RSB Permata Sarana Husada
Now I know how it feels mom...
10 Desember 2014
Charisa namanya, diambil dari perpaduan nama ayah bundanya Chaeru & Anissa.
Qatrunnada, yang diambil dari bahasa arab yang berarti "embun dipagi hari" karena kebetulan ia lahir dikala pagi sebelum subuh tiba.
Ramdani, nama keluarga yang insha allah akan digunakan oleh adik-adiknya juga kelak.
Bayi mungil dengan berat 3000 gram dan panjan 49 cm ini lahir di RSB Permata Sarana Husada Pamulang, ketika itu aku sama sekali tidak tau akan tanda2 lahirnya anak ini, aku datang untuk kontrol kandungan sebagaimana biasa, karena dokter yang biasa menanganiku dengan begitu yakin aku akan melahirkan 2 minggu lagi dari sekarang.
Saat itu aku diantar adik iparku yang kebetulan hanya dia yang ada dirumah. Baru masuk ruang dokter untuk diperiksa, sang dokter langsung bilang "langsung masuk ICU aja". walau agak heran kenapa ngga diperiksa dulu, kenapa ko bisa maju begitu jauh 2 minggu lamanya, tapi aku kalahkan dengan yakin "mungkin ini hitungan allah" hitungan manusia masih sangat mungkin meleset.
Lalu tanggal 9 Desember 11.00 siang aku masuk ruang ICU dan ternyata aku sudah masuk pembukaan 1, langsung aku minta adikku menelepon suamiku dan orang tua serta keluargaku. Pertama suamiku, ia datang begitu cepat. Saat dia datang keadaanku sudah menjelang pembukaan 2, lalu aku dipindahkan ke ruang VIP disitu waktu terasa sangat lamaaaa sekali. Dari pukul 2 siang sampai pukul 7 malam pembukaanku tak kunjung bertambah hanya sakit, mulas yang luar biasa yang aku rasakan.
Jam 8 malam suster baru memastikan pembukaanku baru sampai diangka 3, rasanya sudah ingin mati saja, sakitnya tidak bisa digambarkan. Lagi2 pembukaan 3 itu memakan waktu yang sangat lama, aku hanya bisa menangis dan menahan sakit, sementara suamiku mundar mandir mengurus kebutuhanku, aku sudah tidak memikirkan siapa saja orang yang datang menjenguk, aku sudah tidak peduli. Satu yang aku rasakan, lemas ketika suamiku membacakan aku doa (entah apa) sambil membasuh air (yang seperti minyak) ke seluruh tubuhku "amalan dari ayah" katanya.
Jam 11 malam mereka bilang aku sudah langsung pembukaan 6, lalu aku dipindahkan ke ruang bersalin, disitu baru aku merasakan sakit yang luar biasa, saat itu suamiku mungkin sudah terlampau lelah, yang aku tau ia tidur disebelahku sementara aku masih terus menangis kesakitan.
Waktu menunjukan pukul 01.45 dini hari dan aku sudah memasuki pembukaan 7, dan dokter tak kunjung datang untuk memeriksa, aku memastikan ke dua suster yang sejak siang memeriksaku "Sus, kapan dokternya datang, saya udah ngga kuat" suster cuma bilang sebentar lagi sambil aku melihatnya bulak balik menelepon dokter yang tak kunjung datang.
Hingga hampir pukul 03.00 dini hari aku sudah memasuki pembukaan 9 aku sudah merasa tak kuat lagi menahan rasa sakit seperti ada sesuatu yang ingin keluar dari perutku, sampai aku tak sadar marah2 ke suster "kalo dokternya ngga bisa dateng yaudah ngga usah ditungguin saya udah ngga kuat" akhirnya si suster memutuskan untuk memulai persalinan saya (dengan dugaan saya yang benar dokternya tidak bisa datang -___-')
Kurang lebih 30 menit proses paling menyakitkan dalam hidup saya, saat itu nafas terasa sudah setengah lagi, antara pasrah dan memaksakan harus kuat, bayangkan 15 jam diantara kesakitan dan nyeri yang luar biasa, aku cuma bisa terus mendorong, mendorong dan seketika suster teriak "pa sini pa nih rambutnya udah keliatan, bu ayo ibu cantik, bisa sedikit lagi nafas terus dorong ya" tiba2 saya merasa benda tajam merobek bagian intim saya dan seperti sesuatu yang BESAR sekali keluar dari perut saya.
Suara tangisanpun terdengar "eaaa" saat itu juga saya seperti kehabisan nafas, dan enrtah bagaimana kematian terasa sangat dekat *maaf lebay tapi bener*
Lalu seorang bayi mungil diletakan diatas dadaku, kecil, lunak, lengket, bau amis, bergerak2 diatas dadaku, ingin rasanya aku menangis, haru bahagia seketika menghilangkan rasa sakitku,sementara bayi itu terus bergerak diatas tubuhku, 2 orang suster sibuk menjahit organ intimku yang disobeknya, rasa sakitnya sudah tidak begitu terasa, kalah oleh perasaan bahagia yang begitu mendalam.
Anak mungil ini, yang 9 bulan berputar didalam rahimku, yang sering kali menendang2 perutku, yang kadang membuatku sakit, mual, mudah emosi, sensitif, sering lapar, sering lelah, dan perasaan-perasaan lainnya yang tidak bisa aku gambarkan, akhirnya keluar dari rahimku. Ternyata begini bentuknya, begitu lucu, begitu putih, cantik, lucu. Bahagia hati menatapnya, lupa segala rasa sakit.
Terima kasih ya Allah, terima kasih atas amanah yang begitu indah, akan aku jaga semampu dan sebisaku, sekuat tenagaku, sepenuh jiwaku. Hingga engkau mengambilku, hingga engkau mengambilnya, akan selalu aku berikan ia yang terbaik.
Alhamdulillah :)
Charisa namanya, diambil dari perpaduan nama ayah bundanya Chaeru & Anissa.
Qatrunnada, yang diambil dari bahasa arab yang berarti "embun dipagi hari" karena kebetulan ia lahir dikala pagi sebelum subuh tiba.
Ramdani, nama keluarga yang insha allah akan digunakan oleh adik-adiknya juga kelak.
Bayi mungil dengan berat 3000 gram dan panjan 49 cm ini lahir di RSB Permata Sarana Husada Pamulang, ketika itu aku sama sekali tidak tau akan tanda2 lahirnya anak ini, aku datang untuk kontrol kandungan sebagaimana biasa, karena dokter yang biasa menanganiku dengan begitu yakin aku akan melahirkan 2 minggu lagi dari sekarang.
Saat itu aku diantar adik iparku yang kebetulan hanya dia yang ada dirumah. Baru masuk ruang dokter untuk diperiksa, sang dokter langsung bilang "langsung masuk ICU aja". walau agak heran kenapa ngga diperiksa dulu, kenapa ko bisa maju begitu jauh 2 minggu lamanya, tapi aku kalahkan dengan yakin "mungkin ini hitungan allah" hitungan manusia masih sangat mungkin meleset.
Lalu tanggal 9 Desember 11.00 siang aku masuk ruang ICU dan ternyata aku sudah masuk pembukaan 1, langsung aku minta adikku menelepon suamiku dan orang tua serta keluargaku. Pertama suamiku, ia datang begitu cepat. Saat dia datang keadaanku sudah menjelang pembukaan 2, lalu aku dipindahkan ke ruang VIP disitu waktu terasa sangat lamaaaa sekali. Dari pukul 2 siang sampai pukul 7 malam pembukaanku tak kunjung bertambah hanya sakit, mulas yang luar biasa yang aku rasakan.
Jam 8 malam suster baru memastikan pembukaanku baru sampai diangka 3, rasanya sudah ingin mati saja, sakitnya tidak bisa digambarkan. Lagi2 pembukaan 3 itu memakan waktu yang sangat lama, aku hanya bisa menangis dan menahan sakit, sementara suamiku mundar mandir mengurus kebutuhanku, aku sudah tidak memikirkan siapa saja orang yang datang menjenguk, aku sudah tidak peduli. Satu yang aku rasakan, lemas ketika suamiku membacakan aku doa (entah apa) sambil membasuh air (yang seperti minyak) ke seluruh tubuhku "amalan dari ayah" katanya.
Jam 11 malam mereka bilang aku sudah langsung pembukaan 6, lalu aku dipindahkan ke ruang bersalin, disitu baru aku merasakan sakit yang luar biasa, saat itu suamiku mungkin sudah terlampau lelah, yang aku tau ia tidur disebelahku sementara aku masih terus menangis kesakitan.
Waktu menunjukan pukul 01.45 dini hari dan aku sudah memasuki pembukaan 7, dan dokter tak kunjung datang untuk memeriksa, aku memastikan ke dua suster yang sejak siang memeriksaku "Sus, kapan dokternya datang, saya udah ngga kuat" suster cuma bilang sebentar lagi sambil aku melihatnya bulak balik menelepon dokter yang tak kunjung datang.
Hingga hampir pukul 03.00 dini hari aku sudah memasuki pembukaan 9 aku sudah merasa tak kuat lagi menahan rasa sakit seperti ada sesuatu yang ingin keluar dari perutku, sampai aku tak sadar marah2 ke suster "kalo dokternya ngga bisa dateng yaudah ngga usah ditungguin saya udah ngga kuat" akhirnya si suster memutuskan untuk memulai persalinan saya (dengan dugaan saya yang benar dokternya tidak bisa datang -___-')
Kurang lebih 30 menit proses paling menyakitkan dalam hidup saya, saat itu nafas terasa sudah setengah lagi, antara pasrah dan memaksakan harus kuat, bayangkan 15 jam diantara kesakitan dan nyeri yang luar biasa, aku cuma bisa terus mendorong, mendorong dan seketika suster teriak "pa sini pa nih rambutnya udah keliatan, bu ayo ibu cantik, bisa sedikit lagi nafas terus dorong ya" tiba2 saya merasa benda tajam merobek bagian intim saya dan seperti sesuatu yang BESAR sekali keluar dari perut saya.
Suara tangisanpun terdengar "eaaa" saat itu juga saya seperti kehabisan nafas, dan enrtah bagaimana kematian terasa sangat dekat *maaf lebay tapi bener*
Lalu seorang bayi mungil diletakan diatas dadaku, kecil, lunak, lengket, bau amis, bergerak2 diatas dadaku, ingin rasanya aku menangis, haru bahagia seketika menghilangkan rasa sakitku,sementara bayi itu terus bergerak diatas tubuhku, 2 orang suster sibuk menjahit organ intimku yang disobeknya, rasa sakitnya sudah tidak begitu terasa, kalah oleh perasaan bahagia yang begitu mendalam.
Anak mungil ini, yang 9 bulan berputar didalam rahimku, yang sering kali menendang2 perutku, yang kadang membuatku sakit, mual, mudah emosi, sensitif, sering lapar, sering lelah, dan perasaan-perasaan lainnya yang tidak bisa aku gambarkan, akhirnya keluar dari rahimku. Ternyata begini bentuknya, begitu lucu, begitu putih, cantik, lucu. Bahagia hati menatapnya, lupa segala rasa sakit.
Terima kasih ya Allah, terima kasih atas amanah yang begitu indah, akan aku jaga semampu dan sebisaku, sekuat tenagaku, sepenuh jiwaku. Hingga engkau mengambilku, hingga engkau mengambilnya, akan selalu aku berikan ia yang terbaik.
Alhamdulillah :)
Subscribe to:
Posts (Atom)
You can buy everything but can you buy happiness? -Deddy Corbuzier
Apologizing doesn't mean you're right or wrong, it just means you value your relationship more than your ego. -Kami Garcia ♥ ♥
praying can make you stop doing wrong, or doing wrong can stop you from praying, Choose!!! -Revrunwisdom











