Chiba, Tokyo, Yokohama, Shizuoka <3 p="">
Ini bisa dibilang kunjungan saya yang ke4 kali ke jepang, setelah pertama 2012 ke Tokyo, lalu ke2 training di Sayama 2013 dan yang ke 3 Kyoto, Osaka & Nara trip di tahun 2014. Tingkat ke-takjub-an saya mungkin tidak lagi seheboh waktu pertama & kedua kali saya berkunjung kesana.
Tapi kali ini lain, saya membawa 2 belahan jiwa yang bagi mereka ini akan jadi perjalanan yang luar biasa, sehingga ke-amazing-an yang tadinya menurun mendadak memuncak kembali. Terlebih saya ingin menunjukan kepada mereka (anak & suami saya) bagaimana dunia saya selama ini. Bekerja dengan bangsa Jepang, kecintaan saya terhadap Jepang & segala apapun yang berhubungan dengan Jepang. Saya seperti ingin melibatkan mereka kedalam bagian dari secuil darah yang mengalir di diri saya itu ada 'Jepang-nya' (ps: lebay adalah nama tengah saya hahaha).
Sekarang baby yang sudah not so baby anymore ini hampir 2 tahun usianya, tepatnya 1 tahun 10 bulan di waktu saya membawanya ke Jepang. Cukup besar untuk bisa dibawa jalan-jalan yang sedikit agak jauh. Ini bukan perjalanan pertamanya naik pesawat, sebelumnya dia sudah pernah terbang ke Bali & ke Malang (anak se-bayi ini udah keliling2 kota dengan indahnya, beda banget sama mamaknya).
1st Day, Thu Oct 293>
<3 p="">CGK-KUL-HND, Kamata Mansion 3>
<3 p="">
Berangkat dari Jakarta pukul 06.30 atau sekitar jam 7 kurang, perjalanan ke Bandara ini cukup atau bisa dibilang penuh drama. Kita yang kesiangan & jam sibuk pagi hari yang macetnya bikin bisa kita kuliah S2 sampe kelar! Karena perjalanan ini kami bawa infant jadi peraturan dari maskapai tidak bisa online check in melainkan harus discounter, yang mana check in counter international ditutup satu jam sebelum boarding time. Saat itu boarding time kami pukul 10.05 dan pukul 08.45 kami masih ditol meruya kurang lebih waktu kami hanya 20 menit untuk tiba di bandara sebelum check in counter di tutup. Ditambah kami beli ticket connecting transit di Malaysia, jadi kalau ticket JKT-KUL tidak digunakan makan ticket KUL-HND juga tidak bisa dipakai.
Si driver uber yang kebetulan bawa mobilnya AYLA yang bener-bener ngga ada larinya itu bikin kami semakin cemas. Bulak balik telepon customer service maskapai untuk meminta perpanjangan waktu ternyata ngga juga bisa bikin kami tenang. Tapi alhamdulillah dengan pengertian si driver uber & mobil super mini juga kecepatan 120km/jam dengan selap selip macet dan klakson yang gak putus2 (maaf ya orang2 dijalan yang pastinya terganggu) akhirnya kami tiba di Soetta Jam 9 kurang 5. 10 menit menuju check in counter tutup.
Tanpa bantu si driver angkat koper keluar dari mobil, suami langsung buka pintu mobil dan lari ke check in counter. Dan alhamdulillah masih sempat check in. Suami langsung balik ke gate & bantu saya dorong2 trolley koper yang juga sambil gendong si bocil.
Singkat cerita kami terbang ke Malaysia, di KUL transit time hanya 45 menit untuk menuju ke penerbangan berikutnya. Tapiiii, karena bawa bayi kami selalu bermasalah setiap kali melalui xray luggage, karena di tas kami banyak air, yang mana pasti kami selalu bawa air untuk seduh susu & juga peralatan minyak kayu putih, minyak telon & cairan2 lainnya untuk keperluan bayi. Jadilah setiap melewati xray kami diminta untuk bongkar kembali tas kami untuk perlihatkan isi bawaan. Bongkar tas itu ternyata sungguh makan waktu. Sampai kami sempat beberapa kali dengar panggilan boarding untuk penerbangan kami selanjutnya. Sedih rasanya lari-lari bawa anak juga bawa koper segede2 alaihim untuk ngejar gate boarding sebelum ditutup.
Lesson learned:
Selalu pisahkan apapun kebutuhan si kecil yang berisi cairan untuk menghindari ribetnya bongkar pasang koper.
Rejeki bocil alhamudlillah selalu bagus, setiap kali perjalanan entah kenapa orang disebelah kami selalu pindah. Si bocil jadi bisa selonjoran dengan nyamannya tanpa harus dipangku. Bayangin kalo harus mangku perjalanan udara selama 2 & 6 jam lebih. Dengan kursi yang se-ada2nya pasti ngga nyaman banget.
Kami tiba di Haneda Intl Airport pukul 23.00 malam, dimana katanya kereta terakhir yang beroperasi untuk ke daerah Kamata & sekitarnya itu berakhir di pukul 23.30. Alhamdulillah satu minggu sebelum berangkat semuanya sudah saya siapkan dengan baik. Insyaallah perjalanan kali ini ngga lagi pake nyasar kaya yang sebelum-sebelumnya hehe.
Setelah keluar dari Imigrasi Haneda kami langsung berlari ke Eki (sta.) terdekat untuk kejar kereta yang nanti akan melewati hotel saya di Kamata, ya saya sudah book satu rumah untuk sekedar bermalam menunggu besok pagi, saya book rumah dengan type apato dari aplikasi airbnb. Satu kamarnya cukup murah $65 dengan 2 tempat tidur, yang satu agak besar yang satu single. Sayang banget saya ngga sempet foto kamarnya karena bener2 sampe kamar langsung tepar & tidur. Jarak antara Haneda Sta sampai ke Sta. Keikyu Kamata tempat hotel saya itu hanya berselang beberapa stasiun saja, perjalanan dengan kereta kurang lebih 5 menit & jalan dari Sta ke apato juga memakan waktu 5 menit. Cukup mudah dijangkau. Walau ketika perjalanan menuju apato agak riweuh karena hujan & si bocil tidur di stroller dengan indahnya. Alhasil saya kerudungin stroller dengan kain yang memang saya bawa untuk menutup cover stroller yang hanya setengah itu.
2nd Day, Fri Oct 30
Kamata, Yoyogi Uehara, Shibuya & Chiba (Rumah Teh Feby)
Pukul 08.00
Saya packing, rapi-rapi dan bergegas menuju Tokyo. Saya harus keluar dari apato tidak boleh lebih dari jam 10.00 karena harus mengejar waktu menuju masjid satu-satunya yang ada di Tokyo tepatnya di Yoyogi Uehara untuk mengantar suami solat Jum'at. Jarak dari Kamata ke Tokyo lumayan jauh. Bukan lumayan dengn memang jauh, naik JR kurang lebih 1,5 jam lamanya, plus ditambah nyasar (hehe ke jepang but not getting lost kayanya kurang afdol aja, ngeles) jadi total 2 jam. Sampe di Yoyogi Uehara Sta kami ketemu segerombolan orang India yang kebetulan lagi buru2 juga mau kejar solat Jumat, padahal itu udah jam 13.00 lebih mungkin. Jadi kami yang gak paham ini ikut2an lari2an juga ngikutin dia dibelakang buat menuju ke Tokyo Camii Turkish Centre itu.
Sampe di Tokyo Camii Mosque ternyata disana masih baru pada gelar2 sajadah. Lucu juga ternyata solat Jumat disana itu mulai pukul 13.45 siang. Alhamdulillah suami masih kesempetan solat disana. Dan disana banyak juga perempuan yang ikut solat Jumat. Karena saya bawa si bocil yang mana akan jadi super rusuh kalo saya tinggal solat akhirnya saya putuskan gantian solat dengan suami. Suami solat Jumat saya solat Zuhur.
Berikut penampakan Tokyo Camii mosque:
3>
Setelah solat Jumat disana saya janjian sama temen kuliah waktu di Unpad, temen yang juga selalu nemenin kalo saya datang ke Jepang, temen yang super welcome kalau ada temen dari Indonesia datang berkunjung, duh malu deh pokonya kalo udah ketemu sama dia, namanya Dhita dia sudah kurang lebih 6 tahun tinggal di Jepang. Ke masjid Dhita susul saya dari abis bertemu sensei nya di Shibuya, kebetulan dia lagi mau daftar sekolah kejuruan di Tokyo. Dimasjid itu juga saya bertemu sepasang suami istri dari Perancis, namanya Sid Ahmed & Hoda istrinya. Mereka ramah banget. Ngajak kita makan siang bareng buat ngobrol2. Berhubung sudah ada Dhita si empunya daerah, selanjutnya semuanya saya serahkan ke Dhita tentang tujuan perjalanan kami hehehe. Ceritanya turis ;p
Singkat cerita kami menuju Shin Okubo, tempat dimana Dhita ngajak kami makan siang yang menjelang sore ini. Restoran Thailand yang katanya biasanya orang Indonesia sering & suka makan disini, tapi ternyata Ahmed & Hoda benar-benar tidak bisa makan di tempat yang tidak ada logo halalnya, kasian banget, sementara saya & suami masih berusaha memilah makan makanan yang sekiranya bisa kami makan. Akhirnya kami memutuskan makan sayur2an atau telur2an atau apa saja yang tidak ada unsur hewaninya.
Ini ketika kami makan bareng sama mereka:
Setelah dari makan di Shin Okubo kami pindah ke Shibuya, Dhita sudah lock koper disana & mereka si bule prancis itu juga kebetulan mau ke Shibuya.
Sejenak duduk-duduk disekitaran Hachiko Statue di depan Shibuya eki. Saya suami & si bocil yang bawaannya segembolan ini istirahat sejenak.
Oh iya saya belum info ya barang bawaan saya bertiga. Kami bawa 1 carrier besar volume 60L & satu koper cabin & 1 baby stroller. Kami pilih satu carrier bag karena yang bawa tasnya itu cuma kita berdua, kalau dua2nya yang dibawa itu koper nanti siapa yang harus bawa salah satunya. Gak mungkinkan kalau si bocil. Jadi dengan adanya carrier, suami saya bisa sambil gerek koper & gendong carrier sementara saya dorong si bayi dengan stroller.
Sekitar 1 jam di Hachiko Statue, saya bertemu laki-laki namanya a icha, dia suami dari teh Feby yang nantinya rumahnya akan kita singgahi selama di Tokyo. Kita akan tinggal disana selama trip di Tokyo. Letak apatonya tepatnya di Chiba, sekitar 45 menit dari Tokyo. Alhamdulillah ya punya temen yang baik-baik. Disana kami ngga sama sekali nyewa hotel , cuma malam pertama aja. Abis ketemu a Icha (yang cuma buat kasih kunci hehe) kami lanjut pulang ke Chiba, ke rumah teh Feby. Sebelumnya kami juga janjian sama teh Feby di Sta NishiNippori karena dia pulang kerja lewat situ .
Sampai di apato teh Feby, taraaaaa~~~ tempatnya enak banget. Jepang banget. Tidurnya pake futon (kasur lantai ala jepang), beberapa pintu kamarnya digeser ala2 jepang, toiletnya juga ala-ala jepang, suka banget. Bocil langsung seneng lari-lari kesana kemari. Sekejap kami langsung masuk kamar yang memang sudah disiapin juga huhu baik banget, kami bersih-bersih lalu masak-masak buat perjalanan besok, karena suami agak susah makanan Jepang, selain rasanya yang beda, tingkat ke-halal-annya juga sangat diragukan.
Jam 24.00 atau mungkin lebih, setelah puas ngobrol-ngobrol, karena satu lagi teman saya namanya Githa juga datang menyusul dan ikut menginap satu malam karena besoknya dia harus jemput 'temannya' dari Belanda yang juga mau Tokyo trip bareng kita nanti. Seru ya.
Stay tune, lanjut 3rd Day di postingan selanjutnya yaa <3 p="">
3>





No comments:
Post a Comment