Thursday, March 17, 2011
Berbeda dan akhirnya sama
Mereka berbeda latar belakang, berbeda suku, berbeda bahasa walau kian hari kian biasa, lebih sulitnya ketika mereka jauh berbeda dari segi cara pandang, ya terang berbeda karena dari mereka satu pria dan satunya lagi wanita. Dari sekian banyak perbedaan yang ada, ternyata masih ada satu yang sama. Mereka berada dalam satu masalah yang sama “terjebak masa lalu” . Masa lalu yang membuatnya harus segera beranjak dan melesat maju. Dan seiring waktu berlalu, terus membantu mereka melaju, tidak pernah ada harap untuk yang satu itu, semuanya hanya mengikuti, mengikuti laju yang kian hari kian tak menentu. Hingga datang dimana waktu yang dengan keajaibannya mencoba membawa mereka menjadi satu.
PERNYATAAN DAN PERTANYAAN DUA-DUANYA MENYEDIHKAN
Di waktu yang bisa dibilang memasuki semester sepuluh ini (apa sepuluh?) iya bener sepuluh (malu sendiri ngomongnya). Ya tapi apa boleh dikata memang begitu adanya tiga tahun di D3 ditambah hampir dua tahun di ekstensi bikin gw yang semakin menua ini sedikit banyak muak dengan yang namanya kuliah.
Sering cape denger PERTANYAAN “nisa udah kerja?” “kerja dimana?” “oh masih kuliah?” “udah skripsi?” “loh, emangnya sekarang semester berapa sih?”. Dimana ya gw bisa hidup dengan tanpa adanya pertanyaan-pertanyaan itu? Mungkin sebenernya pertanyaan-pertanyaan itu sih biasa aja, tapi lama kelamaan ko gerah juga ya?
Ditambah Papah yang sepertinya amat berharap gw bisa segera lulus. Ketika diawal semester ini seperti biasa gw minta uang bayaran kost (yang dibayar per 6bulan) dan uang semester sepuluh ini (boleh ngga ya sepuluhnya ngga usah disebut -_-). Papah yang biasanya selalu memberi uang sambil sedikit melontarkan wejangan dengan suaranya yang agak lirih “Sa, yang fokus ya, jangan tengok kanan kiri, ngga usah aneh-aneh, nanti kalo udah sukses mau apa aja bisa” entah kenapa di awal semester ini mengeluarkan kata-kata yang berbeda “Ini uang bayaran (kost dan kuliah) yang terakhir kan?”. Dengan sedikit kaget gw reflect bilang “iya” bener-bener cuma IYA, ngga ada kata-kata lain yang keluar.
Sedangkan dengan amat sadarnya gw ketahui gw NGGA akan bisa lulus semester ini karena masih ada satu mata kuliah yang ngga lulus dan mau ngga mau harus di SP di liburan semester ini, sedangkan kalau mau lulus semester ini harus kejar target skripsi sidang bulan juli supaya bisa lulus bulan agustus. Gimana bisa? Wong SP aja adanya di bulan agustus-september.
Setiap hari setiap waktu cuma itu yang ada dipikiran gw. Gimana caranya bilang sama papah yang sepertinya sudah terlanjur menaruh harap. Sebelum semuanya benar-benar mengecewakan.
Sering cape denger PERTANYAAN “nisa udah kerja?” “kerja dimana?” “oh masih kuliah?” “udah skripsi?” “loh, emangnya sekarang semester berapa sih?”. Dimana ya gw bisa hidup dengan tanpa adanya pertanyaan-pertanyaan itu? Mungkin sebenernya pertanyaan-pertanyaan itu sih biasa aja, tapi lama kelamaan ko gerah juga ya?
Ditambah Papah yang sepertinya amat berharap gw bisa segera lulus. Ketika diawal semester ini seperti biasa gw minta uang bayaran kost (yang dibayar per 6bulan) dan uang semester sepuluh ini (boleh ngga ya sepuluhnya ngga usah disebut -_-). Papah yang biasanya selalu memberi uang sambil sedikit melontarkan wejangan dengan suaranya yang agak lirih “Sa, yang fokus ya, jangan tengok kanan kiri, ngga usah aneh-aneh, nanti kalo udah sukses mau apa aja bisa” entah kenapa di awal semester ini mengeluarkan kata-kata yang berbeda “Ini uang bayaran (kost dan kuliah) yang terakhir kan?”. Dengan sedikit kaget gw reflect bilang “iya” bener-bener cuma IYA, ngga ada kata-kata lain yang keluar.
Sedangkan dengan amat sadarnya gw ketahui gw NGGA akan bisa lulus semester ini karena masih ada satu mata kuliah yang ngga lulus dan mau ngga mau harus di SP di liburan semester ini, sedangkan kalau mau lulus semester ini harus kejar target skripsi sidang bulan juli supaya bisa lulus bulan agustus. Gimana bisa? Wong SP aja adanya di bulan agustus-september.
Setiap hari setiap waktu cuma itu yang ada dipikiran gw. Gimana caranya bilang sama papah yang sepertinya sudah terlanjur menaruh harap. Sebelum semuanya benar-benar mengecewakan.
Subscribe to:
Posts (Atom)
You can buy everything but can you buy happiness? -Deddy Corbuzier
Apologizing doesn't mean you're right or wrong, it just means you value your relationship more than your ego. -Kami Garcia ♥ ♥
praying can make you stop doing wrong, or doing wrong can stop you from praying, Choose!!! -Revrunwisdom