Ini kisah, ini mimpi, ini cerita, ini asa.
Sempat terekam walau hanya beberapa waktu saja.
Indah memang, karenanya aku tak pernah berusaha melupakan,
biar saja dia bersemayam.
Aku tidak berani bilang itu cinta, karena aku takut terlena.
Aku lelah menerka, entah rasa ini kusebut apa. Kalau aku bilang itu sayang, ko malah terdengar ceperti cenayang, yang tiba-tiba
menghilang, tring! hilang bak ditelan.
Ah sudahlah, apapun itu aku berterima kasih. Terima kasih
atas segala waktu, segala cerita, segala impian yang (sempat) dirajut bersama,
ya, walau akhirnya sirna juga.
Disini tak akan ku angkat sedihnya, toh buat apa, itu luka. Sudah
terlalu banyak air mata. Yang akhirnya ternyata sia-sia.
Aku juga tak akan bilang itu masa lalu, karena bagiku itu
tak berlalu. Seberapapun berusaha menguburnya, toh ia akan tetap hidup juga.
Hingga saat ini, masih terlalu banyak kata rindu dikepala,
terlalu banyak asa di dada. Tak henti
menuai tanya, apa memang harus begini akhirnya?
Sempat ku berfikir, bukankah manusia tak ada yang sempurna?
Bukankah kita semua diciptakan untuk saling menyempurnakan? Jika semuanya
putih, lalu buat apa hitam diciptakan.
Bahkan bulan tak akan terlihat indah jika tanpa bintang.
Sempat yang mesti singkat, kembali membuatku takut. Takut
untuk mengerti, takut menghampiri.
Entah ini peringatan, cobaan, teguran atau keindahan.
Hanya kau dan tuhan yang punya jawaban.
Ini hanyalah sebuah tulisan.
No comments:
Post a Comment