terkadang malu,
sebagai perempuan aku sering merasa kuat, merasa diri mampu, merasa fisik sekuat baja,
melakukan banyak hal sekaligus, menghajar setiap kesempatan pekerjaan yang mampir dan memberiku orientasi uang, sungguh egois aku kala itu
hampir tidak ada waktu luang, bahkan diakhir pekan,
bukan aku tidak sadar, bukan aku terhanyut, aku sadar betul akan hal itu
namun sulit bagiku untuk menolaknya, dalam benakku selama aku masih mampu kenapa aku harus melepasnya
sindiran telak sering kali menghempasku, dari temanku, dari saudaraku, bahkan dari orang tuaku sendiri.
bukan juga hal itu tidak menamparku, tapi aku tak tau, hal ini sudah mengikat ragaku
egois sering kali mengalahkan naluri perempuanku, hingga akhirnya Allah mengingatkanku hanya dengan sedikit saja peringatan.
di waktu sibuk ku, di waktu gentingku, bahkan di saat dimana aku harus melakukan hal yang sudah ku tunggu-tunggu selama beberapa minggu
bagi Allah tidaklah ada yang tidak mungkin, hanya dengan menjentikkan jari 'kun fayakun' maka hal kecil bagiNya untuk menjadikan sesuatu terjadi.
Disini aku diingatkan dimana kodratku, dimana kewajibanku sebagai anak, sebagai anak perempuan, sebagai seorang kawan, sebagai saudara, sebagai sesosok gadis kecil mama papa yang juga berkewajiban membantunya
Sakit menerpaku, sakit yang cukup membuatku tidak dapat melakukan apapun hanya tertidur lemas terbaring bagai manusia tak berguna, namun wallahu a'lam naluri nakal ini masih saja kuat mengikatku, setelah 4 hari aku diterpa sakit masih saja kuat keinginanku untuk tetap pergi ke negeri seberang itu, beberapa minggu ini memang aku menunggu saat-saat untuk pergi kesana, hingga aku lupa aku masih dalam keadaan tak berdaya saat itu,
wejangan mama papa juga tak ku indahkan, singkat kata pergilah aku kesana, namun apa yang terjadi
semakin sakit, semakin lemah dan jauh lebih tak berdaya, hal yang semestinya menyenangkan dibenakku beberapa minggu lalu berubah menjadi petaka, 3 hari di negeri tetangga hanya terkapar tak berdaya, berjalan-jalan dengan muka pucat tanpa ekspresi, hari-hari hanya diisi dengan tidur di hotel sementara yang lain melanjutkan kesenangannya. Di sini aku merasa sangat bodoh.
hingga pulang ke rumah wajah ku sudah pucat tidak jelas, mama bilang seperti mayat, langsung dengan cepat aku dilarikan kerumah sakit terdekat, dan benar dugaanku Typhus menerpa
lagi-lagi harus tidur, tidur, dan tidur melupakan segala aktifitas yang dulu selalu aku dahulukan, pekerjaan yang selalu aku nomor satukan
mama yang sering terlupakan kini jadi satu-satunya sandaran, setiap hari membuatkan aku makan, meminumi aku obat, mengontrol setiap perkembanganku, hingga aku menulis blog ini keadaanku sudah cukup sangat membaik,
kejadian ini teramat sangat menamparku, betapa aku punya dunia lain selain pekerjaan, aku punya keluarga, aku punya saudara, aku punya teman, aku punya segalanya yang sering tanpa sadar aku lupakan, mengambil lebih dari satu profesi pekerjaan bukanlah hal mudah dan aku rasakan aku gagal dalam hal itu,
ini sudah menjadi bukti bahwa memang ternyata aku tidak mampu, dan bismillah aku putuskan aku akan resign dari salah satunya, Allah memang maha baik, banyak cara mengingatkan umatnya yang terbuai, semoga kejadian ini tidak hanya mengingatkanku sesaat namun terus terpatri dalam benak betapa segala hal harus tetap pada porsinya, kembalilah dan pastikan sesuatu tepat pada tempatnya.
smg msh ingat apa yg dulu pernah (selalu) dikatakan dan disarankan. Sukses dan sehat selalu utk Anda. Jgn slh arti dlm hal kesuksesan itu. trs berobsesi, tp jgn lupa diri.
ReplyDeletega pernah lupa dan ga akan pernah lupa
ReplyDeletetapi semuanya memang tdk mudah
sukses terus buat foto2 kamu juga yaa jaga diri jaga hati